JURANEWS.ID, SEMARANG – Fakultas Ilmu Komputer (FIK) Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) melalui Himpunan Mahasiswa Film dan Televisi (HM FTV) sukses menggelar festival tahunan **Parade Film Udinus #3** yang berlangsung pada 4–6 Juni 2026 di Auditorium Gedung H Lantai 7 Udinus Semarang.
Festival yang berkolaborasi dengan **Jakarta World Cinema (JWC)** melalui ajang **KlikFilm Short Movie Competition 2026** tersebut menghadirkan sutradara ternama Indonesia, Joko Anwar, sebagai pembicara utama.
Kegiatan ini menjadi ajang apresiasi sekaligus pengembangan ekosistem perfilman bagi pelajar dan mahasiswa di Jawa Tengah serta Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebanyak 50 film pendek berhasil masuk dalam proses seleksi sebelum akhirnya terpilih 10 karya terbaik yang terdiri atas lima film kategori mahasiswa dan lima film kategori pelajar.
Ketua Pelaksana Parade Film Udinus #3, Fikri Achmad Arminto, mengatakan festival tahun ini menjadi momentum penting karena untuk pertama kalinya panitia membuka pendaftaran film secara luas bagi peserta dari Jawa Tengah dan Yogyakarta.
“Festival ini dibentuk untuk menggerakkan roda ekosistem perfilman di Semarang dan Jawa Tengah. Tahun ini menjadi sejarah baru karena jangkauan peserta semakin luas,” ujarnya, Jumat (5/6/2026).
Selain kompetisi film, festival juga menghadirkan berbagai rangkaian kegiatan seperti Focus On bersama sineas lokal Bobby Prasetyo, program komunitas, FTV Showcase, hingga sesi diskusi dan edukasi bersama Joko Anwar.
Kehadiran Joko Anwar menjadi magnet utama dalam festival tersebut. Mengusung tema **”No Budget, No Excuses”**, sesi berbagi pengalaman itu diikuti sekitar 120 peserta yang antusias menyimak berbagai tips dan strategi produksi film dengan anggaran terbatas.
Dalam pemaparannya, Joko Anwar menegaskan bahwa persoalan dana merupakan tantangan yang umum dihadapi para sineas, termasuk dirinya yang telah berkarier di industri film sejak 2005.
Menurutnya, kreativitas dan kemampuan menyusun skenario yang adaptif menjadi kunci utama dalam menghasilkan karya berkualitas meski dengan keterbatasan biaya produksi.
“Masalah anggaran adalah hal yang lumrah di dunia perfilman. Yang terpenting adalah bagaimana sineas mampu menyesuaikan cerita dengan sumber daya yang dimiliki dan peka terhadap isu-isu yang dekat dengan kehidupan masyarakat,” kata Joko Anwar.
Ia juga mendorong mahasiswa untuk terus belajar dan tidak takut bereksperimen dalam membuat film. Menurutnya, proses produksi film merupakan sarana belajar terbaik bagi calon filmmaker.
“Bagi mahasiswa yang ingin terjun ke industri film, pelajari ilmunya dengan baik, lalu teruslah membuat film. Karena proses membuat film itu sendiri adalah proses belajar yang paling berharga,” ujarnya.
Rektor Universitas Dian Nuswantoro, Pulung Nurtantio Andono, memberikan apresiasi atas kreativitas mahasiswa dalam menyelenggarakan festival tersebut.
Ia menyoroti tema unik yang diangkat tahun ini, yakni “Nasi Telur”, sebagai simbol kreativitas mahasiswa yang tetap mampu menghasilkan karya berkualitas meski menghadapi keterbatasan waktu dan anggaran.
Menurutnya, karya-karya yang lahir dari mahasiswa dapat menjadi warisan berharga sekaligus bekal untuk memasuki industri kreatif di masa depan.
“Jangan takut gagal dalam bereksperimen. Tidak ada film yang jelek, yang ada hanyalah film yang belum sempurna,” ujarnya.
Melalui Parade Film Udinus #3, Udinus berharap mampu terus mendorong lahirnya talenta-talenta muda di bidang perfilman sekaligus memperkuat posisi Semarang dan Jawa Tengah sebagai salah satu pusat pertumbuhan industri kreatif nasional.
(*)








Komentar