Kredit CIMB Niaga Tumbuh 6,7 Persen Jadi Rp242,6 Triliun, Laba Sebelum Pajak Capai Rp5,8 Triliun

Hingga September 2026, transaksi digital menyumbang 90 persen aktivitas nasabah. Bank juga mencatat pertumbuhan dana murah dan pembiayaan berkelanjutan.

JURANEWS.ID, JAKARTA – PT Bank CIMB Niaga Tbk mencatat pertumbuhan kredit dan pembiayaan sebesar 6,7 persen secara tahunan menjadi Rp242,6 triliun pada sembilan bulan pertama 2026. Di tengah dinamika ekonomi dan tekanan profitabilitas, bank ini membukukan laba sebelum pajak konsolidasian sebesar Rp5,8 triliun.

Berdasarkan laporan kinerja keuangan konsolidasian yang belum diaudit, pertumbuhan kredit tersebut didukung sejumlah segmen bisnis, terutama perbankan korporasi yang mencatat kenaikan 15,1 persen secara tahunan.

Sementara itu, segmen perbankan komersial tumbuh 6,4 persen dan usaha menengah dan kecil meningkat 1,9 persen. Penyaluran kredit pada segmen perbankan konsumer relatif terjaga.

Presiden Direktur dan CEO CIMB Niaga, Lani Darmawan, mengatakan perseroan berupaya menjaga kinerja melalui pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan, pengelolaan biaya secara disiplin, serta peningkatan efisiensi operasional.

“Laba operasional sebelum pencadangan (pre-provision operating profit/PPoP) tetap stabil sebesar Rp8,2 triliun, sementara pendapatan non-bunga tumbuh 7,8 persen secara tahunan,” ujar Lani dalam keterangan resmi perusahaan.

Meski demikian, ia mengakui profitabilitas menghadapi tantangan akibat tekanan margin bunga dan peningkatan pencadangan sebagai bagian dari penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan risiko kredit.

Dari sisi pendanaan, CIMB Niaga membukukan dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp273,7 triliun hingga 30 September 2026. Dana murah atau current account and savings account (CASA) meningkat 4,4 persen secara tahunan menjadi Rp197 triliun.

Kenaikan tersebut mendorong rasio CASA menjadi 72 persen. Adapun total aset konsolidasian perseroan mencapai Rp384,8 triliun, tumbuh 4,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

CIMB Niaga juga mencatat rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) sebesar 23,7 persen dan rasio kredit terhadap dana pihak ketiga atau loan to deposit ratio (LDR) sebesar 87,7 persen.

Menurut manajemen, posisi permodalan dan likuiditas tersebut menjadi salah satu fondasi untuk menjaga keberlanjutan bisnis di tengah tantangan ekonomi.

Untuk periode sembilan bulan pertama 2026, laba per saham atau earnings per share tercatat sebesar Rp178,65.

Penguatan layanan digital menjadi salah satu fokus pengembangan bisnis CIMB Niaga. Perseroan menyebut 90 persen transaksi nasabah sepanjang sembilan bulan pertama 2026 dilakukan melalui kanal digital.

Melalui platform OCTO, nasabah dapat melakukan berbagai transaksi, mulai dari transfer dana, pembayaran menggunakan QRIS, pengisian saldo dompet digital, pembayaran tagihan, hingga investasi pada reksa dana, Surat Berharga Negara (SBN), obligasi korporasi, dan emas.

CIMB Niaga mencatat transaksi QRIS melalui aplikasi OCTO tumbuh 69 persen secara tahunan. Transaksi transfer melalui BI-FAST meningkat 38 persen, sedangkan pembayaran tagihan naik 29 persen.

Pada produk investasi yang mencakup reksa dana, SBN ritel, dan obligasi pasar sekunder, jumlah transaksi meningkat 22 persen secara tahunan hingga September 2026. Nilai transaksinya juga tumbuh 19 persen.

Pada kuartal III 2026, perseroan turut memperkenalkan sejumlah pengembangan layanan, antara lain X-Term Protection melalui kerja sama dengan Sun Life serta integrasi layanan pembukaan Rekening Dana Nasabah dan pemantauan investasi melalui kolaborasi dengan Ajaib.

Selain itu, CIMB Niaga mengembangkan OCTOBIZ sebagai platform perbankan digital untuk nasabah bisnis dan korporasi, serta OCTO Merchant untuk membantu pelaku usaha menerima pembayaran.

Hingga 30 September 2026, perseroan memiliki 41 Digital Branch dan 30 Digital Hub. Jaringan operasionalnya juga mencakup 377 cabang dan jaringan, termasuk 28 Digital Lounge.

Di bidang pembiayaan berkelanjutan, CIMB Niaga mencatat portofolio sebesar Rp65 triliun atau setara 26,6 persen dari total portofolio pembiayaan bank hingga sembilan bulan pertama 2026.

Penyaluran tersebut mencakup pembiayaan yang berkaitan dengan keberlanjutan, produk ramah lingkungan dan efisiensi sumber daya, serta sektor transportasi berkelanjutan.

Perseroan juga memperkuat penerapan Taksonomi untuk Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI) sebagai acuan dalam menilai dan mengklasifikasikan kegiatan ekonomi berkelanjutan.

Sementara itu, Unit Usaha Syariah CIMB Niaga mencatat total pembiayaan sebesar Rp49,4 triliun dan dana pihak ketiga Rp52,5 triliun per 30 September 2026.

Manajemen menyatakan akan terus memperkuat kualitas aset, menyalurkan kredit secara selektif, mengoptimalkan komposisi pendanaan, serta meningkatkan pendapatan berbasis komisi untuk menghadapi tantangan profitabilitas dalam jangka pendek.

Melalui strategi Forward30, CIMB Niaga menargetkan penguatan fundamental bisnis dan kapabilitas perusahaan guna mendukung pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan.

(*)

Komentar