JURANEWS.ID, JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sejumlah peristiwa bencana yang berdampak signifikan di berbagai wilayah Indonesia dalam periode hingga Selasa, 17 Maret 2026 pukul 07.00 WIB. Data yang dihimpun Direktorat Koordinator Pengendalian Operasi (Dit. Koordalops) menunjukkan bahwa bencana hidrometeorologi basah, seperti banjir, dampak cuaca ekstrem, dan longsor masih menjadi peristiwa yang paling banyak terjadi di sejumlah daerah.
Peristiwa bencana yang dilaporkan pertama adalah angin kencang yang menerjang Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur pada Minggu (15/3) pukul 15.30 WIB. Kejadian tersebut berdampak di sembilan desa di empat kecamatan, yakni Kecamatan Sedati, Tulangan, Tarik, dan Waru.
Berdasarkan kaji cepat BPBD Kabupaten Sidoarjo, angin kencang menyebabkan kerusakan ringan pada rumah masyarakat dan pohon tumbang di lima titik berbeda. BPBD telah mengerahkan tim untuk melakukan evakuasi pohon tumbang di lokasi terdampak.
Bergeser ke Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, banjir terjadi setelah dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi pada Minggu (15/3) sekitar pukul 20.00 WIB. Ketinggian muka air banjir berada di kisaran 30 hingga 120 sentimeter.
Wilayah yang terdampak meliputi Desa Sumbergirang (Kecamatan Puri), Desa Gayaman (Kecamatan Mojoanyar), serta Desa Jotangan, Kebondalem, dan Kedunggempol (Kecamatan Mojosari). Banjir tersebut membuat 175 KK atau 300 jiwa terdampak, dengan 12 di antaranya sempat mengungsi di Balai Dusun Tambakrejo sebelum akhirnya pulang ke rumah masing-masing.
BPBD setempat melaporkan kerugian materiil yang mencakup 125 unit rumah terendam, tanggul sepanjang 15 meter yang jebol, 32 hektare lahan persawahan terdampak, dan akses jalan desa yang tergenang. BPBD Jawa Timur bersama BPBD Kabupaten Mojokerto telah melakukan penanganan darurat seperti evakuasi warga dengan perahu fiber, pemberian bantuan logistik, penyisiran, pendataan, hingga penghidupan pompa air.
Sementara itu, banjir juga terjadi di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, pada Senin (16/3) pukul 21.00 WIB akibat hujan lebat yang mengguyur sejak sore hari. Banjir menggenangi permukiman warga di Kelurahan Kapas, Kecamatan Sukomoro, dengan 300 KK terdampak, 150 unit rumah terendam, dan satu tanggul jebol. BPBD setempat telah melakukan pendataan dan koordinasi lintas sektor untuk penanganan di wilayah terdampak.
Bencana hidrometeorologi basah juga melanda Jawa Tengah, tepatnya di Kabupaten Semarang yang dilanda cuaca ekstrem pada Minggu (15/3) sekitar pukul 15.00 WIB. Peristiwa ini terjadi di Desa Bejaten dan Desa Giling, Kecamatan Pabelan.
BPBD Kabupaten Semarang mencatat kerugian materiil yang meliputi 11 unit rumah terdampak, satu unit kantor desa, satu unit balai desa, dua unit fasilitas ibadah, dan satu unit bangunan lainnya. BPBD telah menangani sebagian rumah terdampak hingga Senin malam.
Selain di Pulau Jawa, bencana juga terjadi di Kabupaten Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur, pada Senin (16/3) pukul 10.00 WITA. Peristiwa longsor terjadi di Desa Djalamanu, Kecamatan Wewena Utara, yang menyebabkan dua orang meninggal dunia akibat tanah longsor di lokasi galian yang akan digunakan untuk pembangunan. Dua orang lainnya berhasil selamat namun mengalami luka-luka. BPBD Kabupaten Sumba Barat Daya telah melakukan asesmen dan berkoordinasi dengan instansi terkait.
Menyikapi potensi bahaya hidrometeorologi yang cukup tinggi di sejumlah wilayah Indonesia, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk tetap waspada. Apabila terjadi hujan lebat berkepanjangan atau kenaikan tinggi muka air, segera tingkatkan kewaspadaan mulai dari keluarga dan lingkungan rumah. Saat beraktivitas di luar ruang pada kondisi hujan deras dan angin kencang, diimbau untuk menjauhi pohon-pohon besar yang berpotensi tumbang.
BNPB berharap masyarakat dapat melakukan aksi dini dalam merespons peringatan dini bahaya hidrometeorologi. Di samping upaya kesiapsiagaan di tingkat keluarga, jejaring komunikasi seperti WhatsApp group dan radio handheld transceiver yang dikelola BPBD hingga aparat kecamatan dan desa menjadi mekanisme efektif untuk penyampaian peringatan dini bahaya.
(*)














Komentar