JURANEWS.ID, BREBES – Cara pelaku usaha rumput laut di Desa Randusanga Kulon, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, mengeringkan hasil panen mulai berubah.
Jika sebelumnya rumput laut dikeringkan di pinggir jalan tambak maupun jalan desa, kini proses tersebut mulai dialihkan ke ruang pengering tertutup berbasis teknologi.
Teknologi tersebut diperkenalkan tim dosen dan mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP) bersama Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) kepada pelaku usaha setempat, Kamis (28/8/2026).
Penerapan teknologi dilakukan melalui Program Hilirisasi Riset Prioritas dan Strategis–SINERGI, khususnya skema Hilirisasi Riset Berbasis Transfer Teknologi Terintegrasi.
Program yang dijalankan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) tersebut diarahkan untuk memperkuat kolaborasi perguruan tinggi dengan mitra industri dan masyarakat.
Desa Randusanga Kulon dipilih karena memiliki potensi budi daya rumput laut yang cukup besar dan dinilai membutuhkan penguatan teknologi pascapanen.
Selama ini sebagian warga masih melakukan pengeringan secara terbuka di pinggir jalan tambak maupun jalan desa.
Metode tersebut membuat proses pengeringan sangat bergantung pada cuaca. Selain itu, rumput laut berisiko terpapar debu, kotoran, hewan, maupun sumber kontaminasi lain dari lingkungan sekitar.
Melalui teknologi baru, rumput laut ditempatkan di dalam bangunan tertutup dengan rak-rak khusus sehingga tidak bersentuhan langsung dengan tanah maupun lantai.
Gunakan Energi Surya dan Biomassa
Sistem pengeringan yang diperkenalkan menggunakan konsep energi hibrida surya–biomassa.
Energi surya menjadi sumber panas utama, sementara biomassa digunakan sebagai sumber panas pendukung ketika intensitas sinar matahari menurun atau kondisi cuaca tidak mendukung.
Sirkulasi udara panas di dalam ruang pengering dibantu blower dan fan exhaust. Sistem tersebut dirancang agar aliran udara panas dapat tersebar secara merata pada rumput laut.
Dengan metode ini, proses pengeringan diharapkan menjadi lebih higienis, efisien, dan konsisten.
Ketua Tim SINERGI UNDIP, Prof. Dr. Moh. Djaeni, S.T., M.T., mengatakan teknologi tersebut dirancang berdasarkan kebutuhan nyata pelaku usaha di lapangan.
Menurutnya, teknologi pengeringan tertutup bukan hanya ditujukan untuk meningkatkan kebersihan produk, tetapi juga mempercepat proses pengeringan.
Jika sebelumnya proses pengeringan membutuhkan waktu sekitar 18 jam, teknologi tersebut ditargetkan mampu memangkas waktu menjadi sekitar 8 jam.
Penggunaan ruang tertutup juga membuat rumput laut lebih terlindungi dari hujan, debu, hewan, serta berbagai sumber cemaran selama proses pengeringan.
Sementara dukungan panas dari biomassa membuat proses produksi tidak sepenuhnya bergantung pada sinar matahari.
Program SINERGI tersebut melibatkan tim lintas disiplin dari UNDIP dan Unwahas.
Tim UNDIP diketuai Prof. Dr. Moh. Djaeni dengan anggota Prof. Aji Prasetyaningrum, Prof. Dr. Andri Cahyo Kumoro, serta Dr. Agus Suherman.
Sementara tim dari Unwahas terdiri atas Dr. Laeli Kurniasari dan Agung Nugroho.
Kegiatan tersebut juga melibatkan mahasiswa Program Sarjana, Magister, dan Doktor Teknik Kimia.
Mahasiswa tidak hanya dilibatkan dalam aspek teknis, tetapi juga mendapatkan pengalaman pembelajaran berbasis persoalan nyata di masyarakat.
Mereka ikut mendampingi proses penerapan teknologi, mengamati proses pengeringan, serta berinteraksi langsung dengan pelaku usaha.
Kolaborasi perguruan tinggi, industri, dan masyarakat tersebut diharapkan mampu mendorong hilirisasi hasil riset agar tidak berhenti sebagai purwarupa di lingkungan kampus.
Melalui Program SINERGI, UNDIP dan Unwahas bekerja sama dengan PT Mutiara Global Industry melalui mekanisme co-funding, co-contribution, dan co-creation.
Teknologi pengeringan tersebut diharapkan mampu memperkuat pengolahan pascapanen rumput laut di Desa Randusanga Kulon.
Produk yang lebih bersih, kering secara merata, dan memiliki kualitas lebih konsisten dinilai dapat membuka peluang peningkatan daya saing serta nilai jual rumput laut kering.
Kini, hasil budi daya rumput laut warga Randusanga Kulon diharapkan tidak lagi bergantung pada penjemuran di pinggir jalan.
Teknologi tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana kolaborasi perguruan tinggi, industri, mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat dapat menghadirkan inovasi yang langsung menyentuh kebutuhan pelaku usaha pesisir.
(*)










Komentar