JAKARTA, JURANEWS.ID – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sejumlah bencana hidrometeorologi basah masih terjadi di berbagai wilayah Indonesia, sementara kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetap menjadi ancaman di sejumlah daerah yang mulai memasuki musim kemarau.
Berdasarkan laporan BNPB periode Jumat (5/6/2026) hingga Sabtu (6/6/2026) pukul 07.00 WIB, banjir, cuaca ekstrem, dan karhutla terjadi di sejumlah provinsi dengan ribuan warga terdampak.
Banjir Rendam Ribuan Rumah di Kota Medan
Bencana banjir akibat hujan berintensitas tinggi melanda Kota Medan, Sumatera Utara, pada Jumat (5/6). BNPB mencatat sebanyak 2.183 kepala keluarga atau 6.860 jiwa terdampak, dengan 1.992 unit rumah terendam.
Wilayah terdampak meliputi Kelurahan Kwala Bekala di Kecamatan Medan Johor, Kelurahan Beringin di Kecamatan Medan Selayang, Kelurahan Aur dan Sei Mati di Kecamatan Medan Maimun, serta Kelurahan Besar di Kecamatan Labuhan.
BPBD Kota Medan bersama instansi terkait telah melakukan asesmen, pemantauan, serta penanganan darurat. Hingga Sabtu pagi, banjir dilaporkan mulai surut dan warga mulai membersihkan lingkungan mereka.
Cuaca Ekstrem Rusak Belasan Rumah
Masih di Kota Medan, cuaca ekstrem berupa hujan deras disertai angin kencang juga terjadi di Kecamatan Medan Denai.
Peristiwa tersebut berdampak pada 13 kepala keluarga atau 47 jiwa dan menyebabkan 13 rumah mengalami kerusakan.
Wilayah terdampak meliputi Kelurahan Tegal Sari Mandala II, Binjai, Harjosari II, dan Medan Tenggara. Petugas BPBD bersama warga masih melakukan pendataan dan penanganan di lokasi.
Angin Kencang Terjang Serdang Bedagai
Di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, cuaca ekstrem berupa hujan deras, petir, dan angin kencang menyebabkan 20 rumah rusak berat dan berdampak pada 20 kepala keluarga.
Bencana terjadi di sejumlah desa di Kecamatan Perbaungan dan Kecamatan Sei Rampah. Tim BPBD setempat masih melakukan asesmen serta penanganan darurat bersama pemerintah desa dan kecamatan.
Karhutla Hanguskan 6 Hektare Lahan di Mamuju
Sementara itu, kebakaran hutan dan lahan dilaporkan terjadi di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.
Karhutla yang terjadi di Dusun Lambagu, Desa Sumare, Kecamatan Simboro menghanguskan sekitar enam hektare lahan.
Tim gabungan BPBD Provinsi Sulawesi Barat, BPBD Kabupaten Mamuju, dan unsur pemadam kebakaran telah melakukan pemadaman. Kondisi terkini dilaporkan mulai terkendali.
Banjir di Buol Terdampak 708 Jiwa
Banjir juga melanda Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, pada Jumat (5/6). BNPB mencatat sebanyak 208 kepala keluarga atau 708 jiwa terdampak.
Selain itu, sedikitnya 148 rumah terdampak banjir di Desa Mulat, Mopu, Bungkudu, dan Potangoan, Kecamatan Bukal.
Saat ini genangan air mulai surut, meski sebagian rumah masih tergenang. Warga bersama petugas terus melakukan pembersihan pascabanjir.
Luwu Utara dan Karhutla Riau Masih Jadi Perhatian
BNPB juga terus memantau banjir yang melanda Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, sejak pertengahan Mei lalu.
Hingga kini tercatat 3.557 kepala keluarga atau 12.307 jiwa terdampak, sementara 110 warga masih mengungsi. Curah hujan tinggi beberapa hari terakhir menyebabkan debit sungai kembali meningkat dan memicu genangan di sejumlah desa.
Di sisi lain, kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau masih menjadi perhatian nasional. Luas lahan terbakar sejak awal 2026 tercatat mencapai 15.048,83 hektare.
Sedangkan di Kabupaten Nagan Raya, Aceh, luas lahan yang terbakar mencapai 95 hektare. Tim gabungan berhasil memadamkan sekitar 88 hektare dan masih melakukan pendinginan di titik api yang tersisa.
BNPB Imbau Tingkatkan Kesiapsiagaan
BNPB mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi maupun kebakaran hutan dan lahan.
Berdasarkan prakiraan BMKG, sejumlah wilayah masih berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat yang disertai petir dan angin kencang. Sementara wilayah lain mulai memasuki musim kemarau yang meningkatkan risiko kekeringan dan karhutla.
Masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran lahan, memantau informasi cuaca resmi, serta segera melaporkan potensi ancaman bencana kepada petugas.
BNPB menegaskan bahwa kesiapsiagaan, deteksi dini, dan respons cepat menjadi kunci utama dalam meminimalkan risiko serta dampak bencana di tengah kondisi cuaca yang dinamis.
(*)








Komentar