Bencana yang dilaporkan meliputi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), cuaca ekstrem, angin kencang, banjir, hingga tanah longsor. Sejumlah kejadian tersebut mengakibatkan kerusakan rumah warga, fasilitas umum, serta memaksa sebagian masyarakat mengungsi.
Berdasarkan laporan Direktorat Koordinasi Pengendalian Operasi Darurat BNPB, periode pemantauan berlangsung mulai Jumat pukul 07.00 WIB hingga Sabtu pukul 07.00 WIB.
Salah satu wilayah yang mengalami dampak cukup besar adalah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Angin kencang yang disertai hujan sedang hingga lebat pada Kamis (29/10) mengakibatkan kerusakan terhadap 80 unit rumah di empat desa yang tersebar di Kecamatan Lebakwangi dan Maleber.
BNPB mencatat sebanyak 66 rumah mengalami rusak ringan, enam rumah rusak sedang, dan delapan rumah rusak berat. Peristiwa tersebut berdampak pada 82 kepala keluarga atau 294 jiwa. Sebanyak dua kepala keluarga atau delapan jiwa dilaporkan mengungsi.
Selain permukiman, satu ruas jalan dan satu fasilitas umum turut terdampak. Hingga Jumat (30/10), warga masih bergotong royong membersihkan material bangunan yang rusak.
Dampak banjir juga dilaporkan di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan tanggul jebol pada Kamis (29/10) malam sekitar pukul 21.30 WIB.
Kondisi tersebut mengakibatkan banjir yang berdampak pada 310 unit rumah di tiga desa di Kecamatan Tanjung Pura. BPBD Kabupaten Langkat bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang telah meninjau lokasi serta melakukan pengukuran tanggul yang jebol. Penanganan lanjutan direncanakan menggunakan geobag.
Di Jawa Timur, cuaca ekstrem juga berdampak pada sejumlah wilayah. Kabupaten Magetan dilanda hujan sedang hingga lebat disertai angin kencang pada Kamis (29/10) sore. Kejadian tersebut menyebabkan pohon tumbang dan kerusakan terhadap 11 rumah, terdiri atas 10 rumah rusak ringan dan satu rumah rusak sedang.
Satu fasilitas kesehatan dan satu fasilitas pendidikan turut terdampak. BPBD Provinsi Jawa Timur bersama BPBD Kabupaten Magetan telah melakukan asesmen serta penanganan pohon tumbang.
Kejadian serupa terjadi di Kabupaten Ngawi. Sebanyak 11 pohon tumbang di enam desa yang tersebar di Kecamatan Kedawung dan Ngawi akibat hujan berintensitas tinggi disertai angin kencang.
Selain pohon tumbang, empat rumah mengalami kerusakan ringan dan kabel listrik PLN dilaporkan terputus. BPBD Kabupaten Ngawi melakukan asesmen serta berkoordinasi dengan instansi terkait untuk menangani dampak kejadian tersebut.
Sementara itu, di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, angin kencang yang terjadi pada Senin (26/10) berdampak pada 28 rumah dan satu fasilitas pendidikan di Kecamatan Salam Babaris, Tapin Selatan, dan Bungur.
Hingga Jumat (30/10), material pohon tumbang yang menimpa rumah warga telah dibersihkan. Namun, kerusakan atap rumah masih membutuhkan penanganan dan bantuan lanjutan.
Bencana banjir disertai tanah longsor juga terjadi di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi pada Kamis (29/10) malam menyebabkan 27 rumah mengalami kerusakan ringan di tiga desa di Kecamatan Munjungan.
BPBD Kabupaten Trenggalek bersama TNI, Polri, perangkat desa, dan masyarakat masih melakukan pemantauan ketinggian air di wilayah terdampak.
Di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, banjir melanda Kelurahan Plumbungan, Kecamatan Karangmalang, pada Jumat (30/10) malam. Hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi yang berlangsung cukup lama menjadi salah satu pemicu banjir.
Selain faktor hujan, gorong-gorong yang tersumbat material tanah longsor turut memperparah kondisi. Sebanyak enam kepala keluarga atau 29 jiwa terdampak, dengan enam rumah dilaporkan terkena banjir.
BPBD Kabupaten Sragen telah melakukan kaji cepat dan penanganan di lokasi. Hingga laporan diterima BNPB, banjir dilaporkan telah surut.
Karhutla Terjadi di Tiga Wilayah
Selain bencana hidrometeorologi, BNPB juga menerima laporan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah.
Di Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, karhutla terjadi di Desa Matabondu, Kecamatan Tirawuta, pada Kamis (29/10). Kebakaran melanda lahan milik warga yang berdekatan dengan kawasan perumahan masyarakat dengan luas sekitar satu hektare.
Sementara di Kota Tual, Maluku, kebakaran lahan berlangsung sejak 3 hingga 28 Oktober 2026. Api melanda wilayah Kecamatan Pulau Dullah Selatan dan Pulau Dullah Utara, mencakup satu kelurahan dan enam desa dengan total luas lahan terbakar mencapai 3,24 hektare.
Karhutla juga terjadi di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, pada Jumat (30/10). Kebakaran dipicu pembakaran ranting sisa penebangan di Desa Puncak, Kecamatan Sinjai Selatan, dan Desa Biroro, Kecamatan Sinjai Timur.
Luas lahan yang terbakar mencapai 4,7 hektare. Petugas pemadam kebakaran bersama Babinsa dan masyarakat melakukan pemadaman menggunakan satu unit armada pemadam serta pompa gendong.
BNPB melaporkan seluruh kejadian karhutla tersebut berhasil dipadamkan dan tidak menimbulkan korban jiwa.
Menyikapi sejumlah kejadian tersebut, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, khususnya banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem.
Masyarakat juga diminta memantau perkembangan informasi cuaca melalui sumber resmi serta mengenali potensi risiko bencana di lingkungan masing-masing.
BNPB mengingatkan warga agar segera melakukan evakuasi secara mandiri apabila kondisi di sekitar tempat tinggal menunjukkan tanda-tanda bahaya.
Informasi tersebut disampaikan BNPB melalui siaran pers perkembangan situasi dan penanganan bencana di Tanah Air tertanggal 31 Oktober 2026.












Komentar