SUMATERA UTARA, JURANEWS.ID – Banjir melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara, termasuk Kota Medan dan Kota Binjai, pada 28–29 Oktober 2026. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lebih dari 11 ribu warga terdampak akibat rangkaian bencana hidrometeorologi tersebut.
Berdasarkan laporan BNPB hingga Jumat (30/10/2026) pukul 07.00 WIB, banjir di Kota Medan berdampak pada 2.405 kepala keluarga (KK) atau 7.930 jiwa. Genangan terjadi pada Rabu (28/10) sekitar pukul 23.00 WIB setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut.
Banjir meluas ke sembilan kelurahan yang tersebar di lima kecamatan. Kondisi berangsur pulih setelah air surut pada Kamis (29/10), sehingga warga dapat kembali ke rumah masing-masing.
Sementara itu, banjir di Kota Binjai terjadi pada Kamis (29/10) dini hari akibat luapan Sungai Bingai dan Sungai Mencirim setelah debit air meningkat.
Sebanyak 1.014 KK atau 3.885 jiwa terdampak. Banjir melanda empat kelurahan, yakni Rambung Timur dan Rambung Dalam di Kecamatan Binjai Selatan, Kelurahan Setia di Kecamatan Binjai Kota, serta Mencirim di Kecamatan Binjai Timur.
BNPB melaporkan banjir telah surut dan warga kembali ke rumah masing-masing setelah penanganan dilakukan oleh BPBD Kota Binjai.
Selain Medan dan Binjai, banjir disertai tanah longsor juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Serdang Bedagai pada Kamis (29/10).
Wilayah terdampak meliputi Desa Kotarih di Kecamatan Kotarih, Desa Kualasar dan Desa Pamah di Kecamatan Silinda, serta Kecamatan Sipispis dan Dolok Merawan.
BPBD setempat mencatat sedikitnya 31 KK terdampak dengan rumah terendam banjir. Genangan dilaporkan berangsur surut, sementara pendataan warga terdampak dan pemantauan kondisi di lapangan masih berlangsung.
Di luar Sumatera Utara, cuaca ekstrem berupa angin kencang juga terjadi di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, pada Rabu (28/10).
Peristiwa tersebut menyebabkan 25 rumah rusak dan satu tempat usaha terdampak. Sebanyak 25 KK di delapan desa turut terkena dampak.
BPBD Kabupaten Jombang masih melakukan penanganan darurat, pendataan, serta koordinasi dengan pihak terkait hingga Kamis (29/10).
Kejadian serupa dilaporkan di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, pada Senin (26/10). Angin kencang menyebabkan sebagian atap rumah warga rusak dan berdampak pada 28 KK.
Wilayah terdampak tersebar di Desa Salam Babaris, Kecamatan Salam Babaris; Desa Tandui, Suato Tatakan, Rumintin, dan Kelurahan Tambarangan di Kecamatan Tapin Selatan; serta Desa Mandurian di Kecamatan Bungur.
Penanganan dilakukan BPBD Kabupaten Tapin bersama Satpol PP dan pemadam kebakaran setempat melalui pendataan, pembersihan pohon tumbang, dan koordinasi lintas instansi.
Menyikapi rangkaian bencana hidrometeorologi tersebut, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat di wilayah berisiko tinggi untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi banjir, angin kencang, dan tanah longsor.
Untuk mengurangi risiko banjir, masyarakat diminta membersihkan saluran air dan drainase secara gotong royong agar aliran air tetap lancar. Warga juga perlu mengenali jalur evakuasi, mengetahui lokasi aman, serta menyiapkan tas siaga bencana yang berisi kebutuhan pokok untuk minimal tiga hari.
BNPB turut mengingatkan agar kegiatan susur sungai dilakukan dengan pengawasan petugas BPBD dan mengutamakan keselamatan. Sementara itu, pengecekan infrastruktur bendungan harus dikoordinasikan dengan instansi berwenang serta dilakukan oleh petugas kompeten.
Menghadapi potensi angin kencang, masyarakat diimbau memeriksa dan memperkuat atap rumah. Ranting pohon yang rapuh atau berada dekat rumah dan ruang publik juga perlu dipangkas secara aman oleh petugas atau tenaga yang memiliki peralatan memadai.
Saat angin kencang terjadi, masyarakat diminta menghindari papan reklame, pohon besar, tiang, dan benda lain yang berisiko roboh. Warga disarankan mencari perlindungan di dalam bangunan yang kokoh.
Adapun bagi masyarakat di wilayah rawan longsor, BNPB mengimbau agar segera mengungsi ke tempat aman apabila hujan lebat berlangsung lama, terutama di kawasan hulu dan lereng.
Warga juga diminta mengenali tanda-tanda potensi longsor, seperti retakan tanah atau lantai, perubahan kemiringan pohon dan tiang, serta munculnya rembesan air yang tidak biasa.
BNPB mengingatkan masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca dan kondisi lingkungan melalui kanal resmi serta segera melaporkan tanda bahaya kepada aparat setempat atau petugas BPBD.
(*)








Komentar