JURANEWS.ID, JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih mendominasi kejadian bencana di Indonesia. Selain itu, sejumlah wilayah juga dilanda bencana hidrometeorologi seperti banjir dan angin kencang akibat kondisi cuaca yang masih ekstrem.
Dalam laporan perkembangan situasi dan penanganan bencana periode 3–4 Juni 2026, BNPB mencatat kejadian angin kencang di Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, yang berdampak pada 58 kepala keluarga dan menyebabkan kerusakan pada 58 unit rumah hunian sementara (huntara).
Wilayah terdampak meliputi Gampong Rumoh Rayeuk, Buket Linteung, Geudumbak, dan Langkahan di Kecamatan Langkahan. Tim gabungan BNPB dan BPBD setempat telah melakukan asesmen serta koordinasi penanganan di lapangan. Saat ini kondisi dinyatakan kondusif dan proses pendataan kerusakan masih berlangsung.
Sementara itu, banjir yang melanda Kabupaten Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara, berdampak pada 150 kepala keluarga dan memaksa 10 warga mengungsi. Sebanyak 150 rumah dilaporkan terdampak akibat hujan berintensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut.
BPBD Halmahera Tengah bersama Dinas Pekerjaan Umum telah melakukan penanganan darurat dengan normalisasi drainase di Kota Weda guna mempercepat surutnya genangan dan memulihkan aktivitas masyarakat.
Di sektor kebakaran hutan dan lahan, Provinsi Aceh masih menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian. Karhutla di Kabupaten Nagan Raya telah menghanguskan sekitar 90 hektare lahan. Tim gabungan berhasil memadamkan sekitar 80 hektare, namun sejumlah titik api masih berpotensi meluas akibat cuaca panas dan angin kencang.
Kebakaran lahan juga masih terjadi di Kabupaten Aceh Barat dengan luas terdampak mencapai 24,1 hektare. Upaya pemadaman hingga kini masih terus dilakukan, terutama di wilayah Kecamatan Bubon.
Sementara itu, Provinsi Riau masih menjadi daerah dengan luasan kebakaran terbesar. BNPB mencatat total luas lahan terbakar sejak awal tahun 2026 telah mencapai 15.037,63 hektare.
Pemerintah Provinsi Riau saat ini masih menetapkan status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan hingga 30 November 2026. Pada perkembangan terbaru, terdapat penambahan kebakaran sekitar satu hektare di Kabupaten Rokan Hulu dan lima hektare di Kabupaten Bengkalis.
Di Kalimantan Tengah, luas lahan terbakar tercatat mencapai 448,05 hektare hingga awal Juni 2026. Pemerintah daerah masih memberlakukan status siaga darurat karhutla hingga 10 Juni 2026.
Sementara itu, kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat, yang sebelumnya berdampak pada lahan seluas 98,28 hektare dilaporkan telah berhasil dipadamkan dan kondisi di lapangan saat ini kondusif.
BNPB mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi bencana. Berdasarkan prakiraan cuaca BMKG, sejumlah wilayah masih berpotensi mengalami cuaca panas disertai angin kencang, sementara wilayah lainnya berpotensi diguyur hujan sedang hingga lebat.
Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan maupun bencana hidrometeorologi lainnya.
BNPB mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan, terus memantau informasi resmi dari pemerintah dan BPBD setempat, serta segera melaporkan apabila menemukan titik api maupun potensi ancaman bencana di lingkungan sekitar.
Selain itu, pemerintah daerah diminta memastikan kesiapan personel, peralatan, dan langkah mitigasi guna mengurangi risiko bencana, khususnya di wilayah yang memasuki musim kemarau dan rawan kebakaran hutan maupun lahan.
(*)














Komentar