JURANEWS.ID, JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan perkembangan terbaru situasi bencana di berbagai wilayah Indonesia. Dalam periode 24 hingga 25 Juni 2026, kekeringan masih menjadi bencana yang paling dominan seiring semakin banyak daerah memasuki musim kemarau.
Selain kekeringan, BNPB juga mencatat sejumlah kejadian baru berupa tanah longsor di Nusa Tenggara Timur, kebakaran hutan dan lahan di Papua Barat, banjir rob di Jawa Tengah, hingga penanganan gempa bumi yang masih berlangsung di Sulawesi Tengah.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Ph.D., mengatakan pemerintah daerah bersama BPBD terus melakukan berbagai langkah penanganan untuk meminimalkan dampak bencana terhadap masyarakat.
“BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan yang diperkirakan masih berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia,” ujar Abdul Muhari dalam laporan resmi BNPB, Kamis (25/6/2026).
Boyolali Mulai Dilanda Kekeringan
Kekeringan terbaru terjadi di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Sebanyak 42 kepala keluarga atau 125 jiwa di Desa Ketoyan, Kecamatan Wonosegoro mengalami kesulitan mendapatkan air bersih akibat musim kemarau yang mulai dirasakan masyarakat.
BPBD Kabupaten Boyolali telah bergerak cepat dengan menyalurkan bantuan air bersih kepada warga terdampak. Distribusi bantuan dilaporkan berjalan aman dan tepat sasaran.
Longsor di NTT, Puluhan Warga Mengungsi
Sementara itu, bencana tanah longsor melanda Desa Oinlasi, Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur.
Peristiwa yang terjadi pada 22 Juni 2026 tersebut mengakibatkan 10 kepala keluarga atau 39 jiwa harus mengungsi. Selain itu, sebanyak 25 kepala keluarga atau 87 jiwa lainnya masih berada dalam zona rawan longsor.
Pemerintah daerah bersama BPBD setempat telah mendirikan tenda pengungsian, menyalurkan bantuan logistik, serta memberikan layanan kesehatan bagi warga terdampak.
Karhutla Papua Barat Hanguskan 50 Hektare Lahan
Di wilayah timur Indonesia, kebakaran hutan dan lahan terjadi di Kampung Mekar Sari, Distrik Bomberay, Kabupaten Fakfak, Papua Barat.
Karhutla yang terjadi pada Rabu (24/6/2026) menghanguskan sekitar 50 hektare lahan. Beruntung, tim gabungan berhasil mengendalikan api dalam waktu kurang dari satu hari.
“Hingga saat ini kondisi di lokasi dilaporkan kondusif dan masih dalam pemantauan petugas,” tulis BNPB.
Kekeringan Meluas di Jawa Barat dan Jawa Tengah
BNPB juga mencatat kekeringan yang masih berlangsung di sejumlah daerah.
Di Kabupaten Bekasi, sebanyak 5.425 jiwa terdampak dengan total distribusi air bersih mencapai 130 ribu liter sejak status siaga darurat ditetapkan.
Sedangkan di Kabupaten Bogor, sebanyak 4.092 jiwa terdampak dan masih membutuhkan pasokan air bersih secara berkala.
Di Jawa Tengah, kekeringan juga melanda Kabupaten Banjarnegara, Klaten, dan Cilacap.
Kabupaten Klaten menjadi wilayah dengan dampak terbesar, yakni mencapai 6.859 jiwa terdampak. Hingga 24 Juni 2026, BPBD telah menyalurkan 605 ribu liter air bersih atau setara 121 tangki kepada masyarakat.
Banjir Rob Pati Berangsur Surut
BNPB melaporkan kondisi banjir rob di Kabupaten Pati mulai menunjukkan perbaikan.
Sebanyak 127 kepala keluarga terdampak akibat genangan air laut yang merendam 73 rumah warga. Meski demikian, kebutuhan dasar masyarakat seperti layanan kesehatan, pendidikan, dan air bersih masih dapat terpenuhi.
Gempa Sulawesi Tengah: BNPB Mulai Bangun Hunian Sementara
Sementara itu, proses penanganan pascagempa Sulawesi Tengah terus berlangsung.
Gempa yang mengguncang empat kabupaten dan satu kota pada 16 Juni 2026 menyebabkan tiga orang meninggal dunia, 95 korban luka-luka, serta berdampak pada 9.827 jiwa.
BNPB telah mengirimkan bantuan tahap ketiga ke lokasi terdampak. Selain itu, pembangunan hunian sementara bagi warga korban gempa mulai dilakukan di Kabupaten Sigi sebagai bagian dari percepatan pemulihan.
BNPB Minta Warga Waspada
Melihat masih tingginya potensi bencana hidrometeorologi maupun kekeringan, BNPB mengingatkan masyarakat agar tetap waspada dan aktif melakukan mitigasi.
“Masyarakat diimbau menggunakan air secara bijak serta segera melaporkan kepada pihak berwenang apabila menemukan potensi kebakaran hutan dan lahan maupun kondisi yang dapat memicu terjadinya bencana,” tegas Abdul Muhari.
BNPB memastikan pemantauan dan penanganan bencana akan terus dilakukan secara terpadu bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, relawan, dan seluruh unsur terkait demi melindungi keselamatan masyarakat.
(*)












Komentar