DANA Ungkap Dampak AI: Produktivitas Naik 57 Persen, Aktivitas Judi Online Turun 80 Persen

DANA mengungkap penerapan agentic AI meningkatkan produktivitas hingga 57 persen dan ikut mendukung penurunan aktivitas terindikasi judi online hingga 80 persen sepanjang 2025.

JAKARTA, JURANEWS.ID – Di tengah masifnya penggunaan kecerdasan buatan (AI), perusahaan dituntut tidak sekadar mengikuti tren. Teknologi tersebut harus mampu memberikan dampak nyata, mulai dari meningkatkan produktivitas hingga membantu menyelesaikan persoalan bisnis.

Hal tersebut menjadi sorotan DANA melalui inisiatif tahunan AI@Work Lab dalam ajang IdeaFest 2026 di Jakarta, Senin (7/9/2026).

Forum tersebut mempertemukan pelaku bisnis, teknologi, dan komunitas untuk membahas penerapan AI yang tidak berhenti pada tahap eksperimen, tetapi mampu menghasilkan manfaat yang dapat diukur sekaligus memengaruhi perkembangan talenta teknologi.

Dalam sesi The AI Adoption Trap: Moving Beyond Hype to Real Business Value, CEO & Co-Founder DANA Indonesia, Vince Iswara, bersama Founder Genesis & Sevenpreneur, Raymond Chin, menekankan pentingnya mengukur keberhasilan AI berdasarkan perubahan nyata yang dihasilkan terhadap proses kerja dan bisnis.

“Adopsi AI bukan lagi tujuan akhir. Nilainya baru tercipta ketika teknologi tersebut membantu menyelesaikan persoalan yang nyata, memperbaiki kualitas keputusan, dan memberikan hasil yang dapat diukur,” ujar Vince.

Menurutnya, manusia tetap memiliki peran penting dalam menentukan konteks, menjaga kualitas, mengelola risiko, serta bertanggung jawab atas hasil akhir penggunaan AI.

Saat ini, sekitar 80-90 persen kode di DANA dihasilkan dengan dukungan AI. Namun, kondisi tersebut tidak menghilangkan peran engineer.

Engineer tetap bertanggung jawab merumuskan persoalan, merancang arsitektur sistem, melakukan validasi, memastikan keamanan, hingga mengambil keputusan atas hasil yang dihasilkan teknologi.

Agentic AI Dongkrak Produktivitas 57 Persen

Penerapan AI di DANA juga disebut telah memberikan dampak terukur terhadap operasional perusahaan.

Sepanjang 2025, implementasi agentic AI pada sejumlah proses operasional DANA mencatat peningkatan produktivitas hingga 57 persen.

Selain itu, kepuasan pelanggan meningkat 13 persen, sedangkan penyelesaian layanan mengalami percepatan hingga 10 persen.

Angka tersebut menjadi gambaran bahwa keberhasilan AI tidak hanya diukur dari seberapa banyak teknologi digunakan, tetapi dari perubahan konkret yang dihasilkan setelah diterapkan dalam proses bisnis.

AI juga digunakan untuk mendukung aspek keamanan transaksi. Salah satunya melalui pendekatan Smart Friction, yakni penambahan lapisan verifikasi secara terukur pada aktivitas yang memiliki indikasi risiko lebih tinggi.

Melalui kolaborasi lintas sektor bersama Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), pendekatan tersebut disebut berkontribusi terhadap penurunan aktivitas yang terindikasi perjudian online di platform DANA hingga 80 persen sepanjang 2025.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa penerapan teknologi tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kecepatan dan produktivitas, tetapi juga memperkuat keamanan serta mitigasi risiko.

Pembahasan mengenai dampak AI terhadap dunia kerja berlanjut dalam sesi Beyond Coding: Building a Career AI Can’t Replace.

Sesi tersebut menghadirkan CTO DANA Indonesia Norman Sasono, CTO Google Cloud Indonesia Sai Prasad Kolluri, dan Founder ASSAI Abil Sudarman.

Diskusi menyoroti perubahan peran software engineer di tengah perkembangan AI. Kemampuan coding tetap penting, tetapi keunggulan kompetitif semakin bergeser pada kemampuan memahami bisnis, memecahkan masalah, merancang arsitektur, mengambil keputusan, serta bertanggung jawab terhadap hasil.

“AI dapat membantu menjawab how, tetapi engineer tetap bertanggung jawab atas why, what, dan what could go wrong,” kata Norman.

Menurutnya, ketika kode semakin mudah dihasilkan dengan bantuan AI, kemampuan memahami konteks, menggunakan penilaian yang tepat, dan menjaga akuntabilitas justru menjadi semakin penting.

Melalui AI@Work Lab, DANA mendorong pembahasan AI bergerak dari sekadar tren menuju implementasi yang memiliki tujuan dan ukuran keberhasilan yang jelas.

Fokusnya bukan lagi siapa yang paling cepat mengadopsi AI, melainkan persoalan apa yang dapat diselesaikan, hasil apa yang berubah, serta bagaimana teknologi tersebut digunakan secara bertanggung jawab.

(*)

Komentar