SEMARANG, JURANEWS.ID – Realisasi investasi di Provinsi Jawa Tengah mencapai Rp72,54 triliun sepanjang Januari hingga September 2026. Angka tersebut setara 73,21 persen dari target investasi tahun ini sebesar Rp99,09 triliun.
Berdasarkan paparan Plt Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa Tengah, Drs. Johan Hadiyanto, M.Si, Senin (26/10) mengatakan capaian tersebut terdiri atas Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp40,77 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) senilai Rp31,77 triliun.
Realisasi investasi itu tercatat berasal dari 82.420 proyek dan menyerap 340.334 tenaga kerja Indonesia.
Meski capaian kumulatif menunjukkan angka puluhan triliun rupiah, perkembangan investasi pada triwulan III 2026 memperlihatkan dinamika yang patut dicermati.
Realisasi investasi Jawa Tengah pada triwulan III 2026 tercatat sebesar Rp24 triliun. Nilai tersebut turun 5,98 persen dibandingkan triwulan II 2026 yang mencapai Rp25,53 triliun.
Penurunan terutama terjadi pada investasi dalam negeri. Realisasi PMDN pada triwulan III tercatat Rp9,14 triliun, turun 27,38 persen dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar Rp12,59 triliun.
Sebaliknya, investasi asing justru mengalami peningkatan. PMA naik 14,84 persen dari Rp12,94 triliun pada triwulan II menjadi Rp14,86 triliun pada triwulan III 2026.
Data ini menunjukkan bahwa pertumbuhan investasi asing belum diikuti peningkatan investasi domestik pada periode yang sama.
Kabupaten Kendal menjadi daerah dengan realisasi investasi terbesar di Jawa Tengah sepanjang Januari–September 2026.
Nilai investasi di wilayah tersebut mencapai Rp13,61 triliun, atau sekitar 18,76 persen dari total investasi provinsi.
Posisi berikutnya ditempati Kota Semarang dengan Rp9,08 triliun, disusul Kabupaten Batang sebesar Rp8,55 triliun.
Kabupaten Temanggung berada di posisi berikutnya dengan realisasi Rp5,05 triliun, sedangkan Kabupaten Demak mencatatkan Rp4,30 triliun.
Dominasi Kendal, Semarang, dan Batang memperlihatkan besarnya kontribusi sejumlah kawasan industri dan pusat kegiatan ekonomi terhadap realisasi investasi Jawa Tengah.
Dari sisi sektor usaha, industri karet dan plastik menjadi penyumbang investasi terbesar di Jawa Tengah hingga September 2026, dengan nilai mencapai Rp8,96 triliun.
Berikutnya, industri barang dari kulit dan alas kaki mencatat investasi Rp7,57 triliun, sementara industri tekstil mencapai Rp6,53 triliun.
Sektor industri barang dari kulit dan alas kaki juga menjadi penyerap tenaga kerja terbesar, yakni 77.330 orang. Industri tekstil menyusul dengan 69.422 pekerja.
Sementara itu, industri lainnya menyerap 30.132 tenaga kerja dan sektor jasa lainnya sebanyak 26.358 orang.
Data tersebut memperlihatkan bahwa industri padat karya masih memegang peran penting dalam penyerapan tenaga kerja di Jawa Tengah.
Berdasarkan sebaran wilayah, Kota Semarang menjadi daerah dengan penyerapan tenaga kerja tertinggi sepanjang Januari–September 2026, mencapai 44.459 orang.
Kabupaten Kendal berada di urutan kedua dengan 30.668 pekerja, disusul Kabupaten Jepara sebanyak 30.552 orang.
Kabupaten Semarang mencatat penyerapan 26.551 tenaga kerja, sedangkan Kabupaten Brebes mencapai 23.713 orang.
Besarnya penyerapan tenaga kerja tersebut menjadi salah satu indikator penting untuk melihat kontribusi investasi terhadap perekonomian daerah, selain nilai modal yang masuk.
Komposisi investasi sepanjang Januari–September 2026 menunjukkan PMA sebesar Rp40,77 triliun, lebih tinggi dibandingkan PMDN yang mencapai Rp31,77 triliun.
Berdasarkan negara asal investasi, Hong Kong menempati posisi teratas dengan nilai Rp11,02 triliun. Singapura menyusul dengan Rp9,59 triliun, kemudian Republik Rakyat Tiongkok sebesar Rp6,74 triliun.
Thailand mencatat investasi Rp3 triliun, sedangkan Jepang mencapai Rp2,41 triliun.
Dengan capaian investasi sebesar Rp72,54 triliun, Jawa Tengah masih memiliki pekerjaan untuk memenuhi target Rp99,09 triliun pada 2026.
Hingga akhir September, realisasi investasi telah mencapai 73,21 persen dari target. Artinya, masih diperlukan tambahan sekitar Rp26,55 triliun untuk mencapai target tahunan tersebut.
Perkembangan pada triwulan berikutnya akan menjadi penentu apakah target investasi Jawa Tengah pada 2026 dapat tercapai sekaligus memperkuat penyerapan tenaga kerja dan aktivitas ekonomi daerah.
(*)









Komentar