JURANEWS.ID, SEMARANG – Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk, Irwan Hidayat, menggaungkan gerakan investasi saham kepada masyarakat Indonesia.
Ia menilai jumlah investor saham di Indonesia masih sangat kecil dibandingkan potensi ekonomi nasional.
Menurut Irwan, keuntungan dari investasi saham dapat jauh lebih besar dibandingkan hanya menyimpan uang di bank. Karena itu ia mendorong masyarakat mulai belajar berinvestasi di pasar modal.
Irwan mengungkapkan, saat ini jumlah investor saham di Indonesia baru sekitar 21 juta orang. Angka tersebut masih sangat kecil jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 270 juta jiwa.
“Pemain saham di Indonesia baru sekitar 21 juta orang. Itu masih kecil sekali. Padahal kalau mau sukses, marketnya harus besar. Makanya saya sekarang kampanye supaya masyarakat mulai berinvestasi di saham,” kata Irwan kepada wartawan, Kamis (12/3/2026).
Ia menilai masih banyak masyarakat yang ragu bermain saham karena takut mengalami kerugian atau memiliki pengalaman buruk di masa lalu. Padahal, menurutnya, investasi saham bisa memberikan keuntungan besar jika memilih perusahaan yang sehat dan memiliki reputasi baik.
Irwan juga menyoroti kebiasaan masyarakat yang lebih memilih menyimpan uang di bank atau bahkan menyimpan uang tunai di rumah. Menurutnya, cara tersebut tidak produktif karena uang tidak berkembang.
Ia menyebutkan bunga bank rata-rata hanya sekitar 2 hingga 4 persen per tahun. Sementara itu, keuntungan dari investasi saham dapat mencapai jauh lebih tinggi jika investor memilih perusahaan yang tepat.
“Kalau saham itu bisa 40 persen. Minimal 15 sampai 20 persen bisa. Yang penting cari perusahaan yang jujur dan sehat,” ujarnya.
Ia mencontohkan perusahaan-perusahaan besar yang memiliki reputasi baik dan konsisten mencetak keuntungan sebagai pilihan yang relatif aman bagi investor pemula.
Selain itu, masyarakat juga perlu memahami indikator dasar seperti price earning ratio (PER) sebelum membeli saham.
Banyak Uang Masyarakat Tidak Produktif
Irwan menilai masih banyak masyarakat Indonesia yang menyimpan uang dalam bentuk yang tidak produktif. Ia bahkan menemukan kasus seseorang yang menyimpan puluhan juta rupiah di dalam lemari karena khawatir dengan biaya administrasi bank.
“Ada yang simpan uang di lemari puluhan juta. Ada juga yang uangnya dititipkan ke keluarga. Itu menurut saya tidak produktif,” katanya.
Ia juga menyinggung kebiasaan sebagian masyarakat yang berinvestasi dalam usaha kecil tanpa perhitungan ekonomi yang matang. Menurutnya, pola pikir tersebut membuat masyarakat sulit berkembang secara finansial.
Kurangi Ketergantungan Investor Asing
Irwan menegaskan, peningkatan jumlah investor saham domestik sangat penting bagi kekuatan ekonomi nasional. Jika semakin banyak masyarakat berinvestasi di pasar saham, Indonesia tidak akan terlalu bergantung pada investor asing.
“Kalau investor dalam negeri kuat, kita tidak terlalu tergantung pada investor asing yang punya dana besar,” ujarnya.
Ia mencontohkan negara seperti Amerika Serikat, di mana sebagian besar masyarakatnya aktif berinvestasi di pasar saham sehingga pasar modalnya menjadi kuat dan stabil.
Irwan pun mengajak masyarakat untuk mulai belajar investasi saham dengan memilih perusahaan yang memiliki reputasi baik dan konsisten menghasilkan keuntungan.
“Jangan biarkan uang menganggur. Cari perusahaan yang reputasinya sudah terbukti bertahun-tahun untung, lalu berinvestasilah di saham,” pungkasnya.
(*)










Komentar