Karhutla di Sukoharjo dan Klaten Mengganas, 31 Hektare Lahan Terbakar, BNPB Ungkap Penyebabnya

Kebakaran hutan dan lahan melanda sejumlah wilayah di Jawa Tengah. Di Sukoharjo, 22 hektare lahan terbakar, sementara di Klaten mencapai 9,28 hektare. BNPB mengingatkan masyarakat agar waspada terhadap ancaman karhutla selama musim kering.

JURANEWS.ID, JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengancam sejumlah wilayah Jawa Tengah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sedikitnya 31,28 hektare lahan terbakar di Kabupaten Sukoharjo dan Klaten dalam rentetan kejadian pada Jumat (28/8/2026).

Data tersebut merupakan hasil pemantauan Direktorat Koordinasi Pengendalian Operasi Darurat (Dit. Koordalops) BNPB periode Sabtu (29/8) pukul 07.00 WIB hingga Minggu (30/8) pukul 07.00 WIB.

Di Kabupaten Sukoharjo, karhutla terjadi di Desa Kamal dan Desa Sanggang, Kecamatan Bulu, Jumat (28/8) sekitar pukul 18.15 WIB.

Hasil kaji cepat sementara per Sabtu (29/8) menunjukkan luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 22 hektare. Hingga kini, penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan.

BPBD Kabupaten Sukoharjo bersama tim gabungan langsung melakukan asesmen dan pemadaman di sejumlah titik. Namun, petugas menghadapi medan yang cukup curam dan lokasi titik api yang sulit dijangkau.

Meski demikian, titik api yang mendekati permukiman berhasil diamankan. Asap tebal di sekitar lokasi juga dilaporkan berkurang secara signifikan.

Tidak ada laporan korban jiwa akibat kebakaran tersebut. Petugas gabungan masih melakukan pemantauan untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api.

Sukoharjo Berstatus Siaga Darurat

Kondisi karhutla di Sukoharjo menjadi perhatian karena wilayah tersebut tengah berada dalam status siaga darurat bencana kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan.

Status tersebut ditetapkan melalui Keputusan Bupati Sukoharjo Nomor 300.2/268 Tahun 2026 dan berlaku mulai 1 Mei hingga 30 November 2026.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga telah menetapkan status siaga darurat serupa melalui Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 100.3.3.1/237 Tahun 2026 yang berlaku sejak 1 Juni hingga 31 Desember 2026.

Ancaman karhutla juga terjadi di Kabupaten Klaten. Kebakaran dilaporkan terjadi Jumat (28/8) sekitar pukul 11.25 WIB dan tersebar di tujuh desa pada enam kecamatan.

Lokasi tersebut meliputi Desa Paseban, Kecamatan Bayat; Desa Meger dan Desa Ngawonggo, Kecamatan Ceper; Desa Sabrang, Kecamatan Delanggu; Desa Sorogaten, Kecamatan Tulung; Desa Sawit, Kecamatan Gantiwarno; serta Desa Bulurejo, Kecamatan Juwiring.

Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 9,28 hektare.

BNPB menyebut beberapa kejadian diduga dipicu oleh pembakaran sampah yang tidak terkontrol. Sementara penyebab kebakaran di lokasi lainnya masih dalam penyelidikan.

BPBD Kabupaten Klaten bersama TNI, Polri, pemadam kebakaran, relawan, dan masyarakat melakukan pemadaman di sejumlah titik.

Berdasarkan pemutakhiran Sabtu (29/8), seluruh kejadian kebakaran telah berhasil dikendalikan. Tidak ada laporan korban jiwa maupun korban luka-luka.

Kabupaten Klaten sendiri menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi kering berdasarkan Keputusan Bupati Klaten Nomor 32/360/6 Tahun 2026 yang berlaku 1 Agustus hingga 31 Oktober 2026.

Selain Jawa Tengah, BNPB mencatat karhutla terjadi di sejumlah daerah lain.

Di Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara, kebakaran melanda sekitar 3 hektare lahan di Desa Gotowasi, Kecamatan Maba Selatan. Api telah berhasil dipadamkan pada Sabtu (29/8).

Sementara itu, kebakaran di Kampung Pepas Eheng, Kecamatan Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, berdampak terhadap sekitar 50 hektare lahan belukar dan kebun.

Di Aceh Selatan, kebakaran alang-alang di Gampong Drien, Kecamatan Bakongan, berdampak pada sekitar 4 hektare lahan. Hingga pemutakhiran Sabtu (29/8), api belum sepenuhnya padam dan proses pemadaman dijadwalkan dilanjutkan pada Minggu (30/8).

Karhutla juga terjadi di Kampung Uning Gelime, Kecamatan Weh Pesam, Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Sekitar 20 hektare lahan terbakar, namun api telah berhasil dipadamkan.

BNPB mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla, terutama selama periode kekeringan dan cuaca panas.

Masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran terbuka, termasuk membakar sampah secara sembarangan, karena dapat memicu kebakaran yang sulit dikendalikan.

BNPB juga meminta masyarakat segera melaporkan apabila menemukan titik api kepada petugas atau BPBD setempat.

Langkah cepat diperlukan agar kebakaran tidak berkembang dan meluas ke area permukiman maupun lahan lainnya.

(*)

Komentar