Prabowo Minta Riset Dipercepat, BRIN Ungkap Potensi Limbah Sawit Jadi Listrik 3,9 Gigawatt

Presiden Prabowo Subianto meminta percepatan riset strategis BRIN, mulai dari penanganan karhutla dan energi alternatif berbasis limbah sawit berpotensi 3,9 gigawatt hingga empat kandidat vaksin malaria, 19 kandidat obat herbal, dan teknologi pengolahan sampah.

JAKARTA, JURANEWS.ID — Presiden Prabowo Subianto mendorong percepatan riset strategis nasional agar hasilnya segera dirasakan masyarakat. Mulai dari penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), pengembangan energi alternatif dari limbah sawit, percepatan vaksin malaria, hingga teknologi pengolahan sampah menjadi perhatian pemerintah.

Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, setelah bertemu Presiden Prabowo di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (27/10/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Arif melaporkan perkembangan sejumlah riset yang dinilai strategis untuk menjawab persoalan nasional. Presiden, menurut Arif, menekankan pentingnya hasil penelitian yang tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat diterapkan untuk menyelesaikan persoalan nyata.

Dalam penanganan karhutla, BRIN berkolaborasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Kehutanan, serta TNI Angkatan Udara.

Kolaborasi tersebut mencakup pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), termasuk melalui operasi dry ice. Selain penanganan jangka pendek, BRIN mengembangkan riset jangka menengah dan panjang untuk membantu mengantisipasi kebakaran pada masa mendatang.

Salah satu fokusnya adalah pengembangan model perambatan api. Melalui riset tersebut, pola penyebaran kebakaran diharapkan dapat dipahami lebih baik sehingga langkah antisipasi bisa disiapkan secara lebih tepat.

“Bapak Presiden terus memantau karhutla dan terus menekankan betapa hasil riset untuk memecahkan masalah karhutla baik jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang ini harus dilakukan,” ujar Arif.

Sektor energi menjadi salah satu perhatian dalam laporan BRIN. Arif menyampaikan bahwa limbah cair pengolahan kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) dan tandan kosong sawit berpotensi dikonversi menjadi energi listrik dengan kapasitas sekitar 3,9 gigawatt.

Potensi ini membuka peluang pemanfaatan limbah industri sawit sebagai sumber energi alternatif. Selain menghasilkan energi, pengembangan teknologi tersebut dapat mendukung upaya pemanfaatan limbah agar memiliki nilai tambah.

Arif juga menyoroti peluang produksi biogas yang dapat dikonversi menjadi gas tabung sebagai salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG.

“Jadi saat ini kita mengimpor LPG kurang lebih 97 triliun per tahun. Dengan adanya biogas yang bisa dikonversi menjadi gas tabung, saya kira ini akan menjadi salah satu solusi energi kita ke depan,” kata Arif.

Meski demikian, potensi kapasitas energi tersebut masih perlu dilihat dalam konteks pengembangan teknologi dan penerapannya. Realisasi pemanfaatannya membutuhkan langkah lanjutan agar hasil riset dapat diterapkan secara luas.

Prabowo Minta Pengembangan Vaksin Malaria Dipercepat

Di bidang kesehatan, BRIN melaporkan pengembangan empat kandidat vaksin malaria. Presiden Prabowo, menurut Arif, menginstruksikan agar proses riset dipercepat dengan harapan pengembangan vaksin dapat selesai tiga tahun lebih cepat dari jadwal semula.

Dukungan pemerintah diharapkan mempercepat proses pengembangan hingga tahap produksi.

“Bapak Presiden minta agar proses riset terkait dengan vaksin ini dipercepat. Dan kita berharap dengan support dari Bapak Presiden terkait dengan vaksin ini, ini bisa kita percepat tiga tahun lebih cepat dari seharusnya karena beliau akan memberikan dukungan penuh terhadap produksi vaksin ini, khususnya vaksin malaria,” ungkap Arif.

Arif menyebut pengembangan vaksin malaria juga berpotensi menjadi kontribusi Indonesia bagi dunia, terutama untuk mengatasi jenis parasit yang belum memiliki vaksin, seperti Plasmodium vivax.

Namun, percepatan riset tetap menjadi bagian dari proses pengembangan. Ketersediaan vaksin untuk masyarakat bergantung pada tahapan penelitian dan proses lanjutan yang harus dilalui.

Selain vaksin, BRIN mengembangkan riset obat herbal untuk memperkuat kemandirian obat nasional.

Arif menyebut terdapat 19 kandidat obat herbal yang sedang diarahkan untuk memasuki kategori fitofarmaka. Sejumlah kandidat tersebut sebelumnya masih berada pada tahap Obat Herbal Terstandarisasi (OHT).

Fitofarmaka merupakan kategori obat berbahan alam yang telah memenuhi persyaratan pembuktian ilmiah dan standar yang berlaku. Karena itu, pengembangan kandidat obat herbal memerlukan proses penelitian dan pengujian sebelum dapat digunakan sesuai peruntukannya.

Langkah ini diharapkan memperkuat pemanfaatan hasil riset dalam sektor kesehatan sekaligus membuka peluang pengembangan obat berbasis sumber daya alam Indonesia.

Persoalan sampah juga menjadi pembahasan dalam pertemuan tersebut. Presiden Prabowo mendorong agar teknologi hasil riset yang dapat digunakan pada skala rumah tangga dan desa segera diterapkan di masyarakat.

BRIN berencana berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi untuk memberdayakan perguruan tinggi dalam membantu penanganan sampah di desa-desa.

Arif menjelaskan, BRIN berfokus pada pengembangan riset dan pembuatan prototipe. Karena itu, diperlukan kolaborasi dengan berbagai pihak agar teknologi yang dihasilkan tidak berhenti sebagai purwarupa, tetapi benar-benar dapat dimanfaatkan.

“Bapak Presiden mengarahkan bagaimana teknologi-teknologi level rumah tangga dan level desa ini segera diimplementasikan,” kata Arif.

Penerapan teknologi tersebut diharapkan mendukung gerakan ASRI yang dicanangkan Presiden Prabowo, sekaligus mendorong penyelesaian persoalan sampah dari lingkungan terkecil.

Laporan BRIN memperlihatkan luasnya bidang riset yang tengah didorong pemerintah, mulai dari mitigasi bencana, energi alternatif, kesehatan, hingga lingkungan.

Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan hasil penelitian dapat diterapkan secara efektif. Potensi energi dari limbah sawit, kandidat vaksin malaria, obat herbal, dan prototipe teknologi pengolahan sampah membutuhkan tahapan pengembangan serta penerapan agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.

Pesan Presiden Prabowo, sebagaimana disampaikan Arif, menekankan pentingnya mempercepat pemanfaatan hasil riset untuk menjawab kebutuhan nasional.

Dengan demikian, keberhasilan riset tidak hanya diukur dari temuan atau prototipe yang dihasilkan, tetapi juga dari kemampuannya memberikan solusi konkret bagi persoalan yang dihadapi masyarakat.

(*)

Komentar