VIDEO Talud Perumahan Dai Persada 2 Boja Longsor, Rumah Retak dan Fasilitas Umum Dipertanyakan Warga

Warga Perumahan Dai Persada Residence 2 di Meteseh, Boja, mengeluhkan talud ambrol, rumah retak, saluran air menuju lereng sawah, serta fasilitas umum yang disebut belum terealisasi. Pengembang PT Dai Persada Mulia belum merespons upaya konfirmasi redaksi.

KLIK LINK UNTUK MELIHAT VIDEO : https://vt.tiktok.com/ZSbcu8smB/

KENDAL, JURANEWS.ID – Kondisi talud yang dilaporkan ambrol, bangunan rumah yang mengalami keretakan, hingga fasilitas umum yang disebut belum terealisasi menjadi keluhan warga Perumahan Dai Persada Residence 2 di Segumun, Desa Meteseh, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, Minggu (11/10).

Sejumlah penghuni mengaku khawatir terhadap keamanan hunian mereka, terutama menjelang musim penghujan. Warga berharap pemerintah daerah dan instansi terkait melakukan pemeriksaan teknis untuk memastikan kondisi bangunan serta keamanan lingkungan perumahan.

Persoalan yang disampaikan warga tersebut mencakup kondisi talud pembatas perumahan, saluran pembuangan air, serta realisasi fasilitas umum dan fasilitas sosial yang menurut mereka pernah dijanjikan saat pemasaran.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian warga adalah ambrolnya talud pembatas perumahan. Menurut keterangan warga, area di sekitar talud tersebut sebelumnya disebut akan dimanfaatkan sebagai fasilitas jogging track.

Seorang warga menyampaikan bahwa longsoran talud tersebut pernah berdampak pada dua rumah hingga keduanya harus dibongkar.

“Dulu ada dua rumah yang langsung terdampak karena longsor tersebut. Akhirnya, mau tidak mau, kedua rumah itu terpaksa dibongkar,” ujar seorang warga.

Selain kejadian tersebut, warga juga menyoroti kondisi sebuah rumah di bagian ujung blok yang disebut mengalami keretakan pada dinding dan terlihat miring.

Kondisi itu memunculkan kekhawatiran penghuni terhadap kemungkinan kerusakan lanjutan, khususnya ketika curah hujan meningkat.

“Bentar lagi masuk musim hujan, apa tidak waswas, Mas?” ungkap warga lainnya.

Penyebab ambrolnya talud serta tingkat keamanan bangunan di sekitar lokasi masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan teknis oleh tenaga ahli atau instansi berwenang. Belum ada hasil pemeriksaan teknis yang dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan penyebab kerusakan tersebut.

Selain kondisi talud dan rumah, warga mempertanyakan sistem drainase perumahan. Berdasarkan keterangan warga, saluran pembuangan air dari kompleks perumahan terlihat mengarah ke lereng lahan persawahan di bawahnya.

Warga khawatir aliran air tersebut berpotensi memengaruhi kestabilan tanah apabila tidak didukung sistem drainase dan pengendalian limpasan yang memadai.

Karena itu, pemeriksaan terhadap sistem pembuangan air dinilai penting untuk mengetahui apakah saluran yang tersedia telah sesuai dengan perencanaan teknis dan memperhatikan keselamatan lingkungan sekitar.

Dampak aktual aliran air terhadap kondisi lereng maupun lahan pertanian belum dapat dipastikan tanpa pemeriksaan langsung oleh pihak berkompeten.

Keluhan warga juga menyangkut fasilitas umum dan fasilitas sosial di Perumahan Dai Persada Residence 2 yang disebut belum seluruhnya terealisasi.

Salah satu fasilitas yang disorot adalah mushola. Menurut warga, fasilitas tersebut pernah menjadi bagian dari gambaran fasilitas perumahan saat pemasaran, tetapi hingga kini belum terwujud sebagaimana yang mereka harapkan.

Warga juga mempertanyakan kejelasan realisasi fasilitas penunjang lainnya.

Persoalan tersebut perlu ditelusuri dengan membandingkan materi pemasaran, dokumen perencanaan, perizinan, serta kewajiban pengembang yang tercantum dalam dokumen terkait. Dengan demikian, status dan kewajiban penyediaan fasilitas dapat diketahui secara objektif.

Di tengah berbagai keluhan tersebut, warga menyebut sejumlah unit rumah dibiarkan kosong karena pemiliknya memilih tidak menempati hunian yang dinilai belum memberikan rasa aman.

Salah seorang penghuni juga mengungkapkan penyesalannya setelah membeli rumah di kompleks tersebut.

“Menyesal aku ambil Perumahan Dai Persada, Mas,” keluh seorang warga yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.

Pernyataan tersebut menggambarkan kekecewaan sebagian penghuni. Namun, jumlah pasti rumah yang kosong, alasan masing-masing pemilik tidak menempati unit, serta kondisi keseluruhan perumahan masih memerlukan verifikasi lebih lanjut.

Warga juga menyampaikan bahwa persoalan teknis talud pernah dipertanyakan sejak awal pembelian unit. Mereka berharap pertanyaan mengenai dokumen perencanaan dan kekuatan konstruksi dapat dijawab secara terbuka berdasarkan data teknis yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam upaya memperoleh penjelasan berimbang, konfirmasi telah diupayakan kepada Danang dari PT Dai Persada Mulia selaku pengembang Perumahan Dai Persada Residence 2. Hingga berita ini disusun, yang bersangkutan belum memberikan respons atas upaya konfirmasi tersebut.

Warga berharap Pemerintah Kabupaten Kendal melalui dinas yang berwenang di bidang perumahan dan kawasan permukiman atau Disperkim melakukan peninjauan terhadap kondisi perumahan tersebut.

Pemeriksaan diperlukan untuk menilai keamanan talud dan bangunan yang dilaporkan mengalami kerusakan, mengevaluasi sistem drainase, serta memeriksa kesesuaian pembangunan dengan dokumen teknis dan perizinan.

Apabila ditemukan indikasi ketidaksesuaian, warga berharap instansi berwenang menindaklanjutinya sesuai ketentuan yang berlaku.

Persoalan ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan terhadap keselamatan bangunan dan pemenuhan komitmen fasilitas perumahan. Bagi warga, kepastian kondisi hunian bukan sekadar persoalan kenyamanan, melainkan juga menyangkut keselamatan keluarga dan perlindungan konsumen.

Hasil pemeriksaan teknis, klarifikasi pengembang, dan tindak lanjut pemerintah daerah diharapkan dapat memberikan kepastian bagi penghuni Perumahan Dai Persada Residence 2 di Meteseh, Boja, Kabupaten Kendal.

(*)

Komentar