JURANEWS.ID, JEPARA – Keberhasilan ekspor ikan teri nasi ke Jepang dan Singapura yang dilakukan CV Karimun Mina Sejahtera, mitra binaan Universitas Diponegoro (UNDIP), tidak hanya mengangkat daya saing produk perikanan Indonesia di pasar internasional, tetapi juga membawa dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat pesisir Pantai Utara Jawa (Pantura).
Hingga Juni 2026, perusahaan tersebut telah melakukan sembilan kali ekspor ikan teri nasi ke Jepang dan Singapura melalui kerja sama dengan Marutetsu Co., Ltd., perusahaan perikanan asal Jepang. Program ini menjadi salah satu contoh keberhasilan kolaborasi antara perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat dalam membangun rantai pasok (supply chain) perikanan yang berkelanjutan.
Lebih dari 1.260 Warga Pesisir Rasakan Manfaat
Program ekspor yang dikembangkan melalui Marine Science Techno Park (MSTP) UNDIP Jepara melibatkan sekitar 100 kapal nelayan dari total 1.200 nelayan yang beroperasi di wilayah Pantura, meliputi Jepara, Kendal, Rembang, hingga Tuban.
Setiap kapal rata-rata diawaki 10 nelayan sehingga sedikitnya 1.000 nelayan memperoleh manfaat ekonomi langsung dari kepastian pasar hasil tangkapan mereka.
Tak hanya nelayan, industri pengolahan ikan teri juga membuka peluang kerja bagi sekitar 200 tenaga kerja, yang sebagian besar merupakan perempuan dari kawasan pesisir. Mereka bertugas melakukan penyortiran, pencucian, pengeringan, hingga proses produksi sesuai standar ekspor.
Selain itu, sekitar 60 pekerja lainnya terlibat dalam pengendalian mutu (quality control), penilaian kualitas produk, hingga proses pengemasan sebelum dikirim ke negara tujuan.
Secara keseluruhan, program tersebut telah memberikan manfaat ekonomi langsung kepada lebih dari 1.260 masyarakat pesisir.
UNDIP: Kampus Harus Hadirkan Dampak Nyata
Rektor Universitas Diponegoro, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si., mengatakan keberhasilan program tidak hanya diukur dari banyaknya produk yang berhasil menembus pasar ekspor, tetapi juga dari dampak sosial ekonomi yang dirasakan masyarakat.
“Perguruan tinggi harus mampu menghadirkan dampak nyata. Keberhasilan sebuah inovasi bukan hanya diukur dari jumlah produk yang diekspor, tetapi juga dari seberapa besar manfaatnya bagi masyarakat. Program ini menunjukkan bagaimana riset, teknologi, dan kemitraan internasional dapat menciptakan peluang ekonomi baru bagi warga pesisir,” ujarnya.
Menurutnya, kolaborasi antara dunia pendidikan, industri, dan mitra internasional menjadi kunci dalam menciptakan ekonomi berbasis inovasi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dari Melunasi Utang hingga Jadi Kepala Produksi
Salah satu kisah inspiratif datang dari Nasiul Aini, seorang janda lulusan SMP yang kini dipercaya menjadi Kepala Produksi CV Karimun Mina Sejahtera.
Ia mengaku program tersebut telah mengubah kehidupan keluarganya secara signifikan.
“Alhamdulillah, pekerjaan ini sangat membantu ekonomi keluarga. Saya bisa melunasi utang koperasi yang selama ini menjadi beban. Saya juga tidak menyangka bisa dipercaya menjadi kepala produksi dan terlibat dalam produk yang diekspor ke Jepang dan Singapura,” tuturnya.
Selain memperoleh penghasilan tetap, Nasiul juga mendapatkan berbagai pelatihan yang meningkatkan keterampilan dan kapasitasnya dalam industri pengolahan hasil perikanan.
Nelayan Kini Punya Kepastian Pasar
Direktur Utama CV Karimun Mina Sejahtera, Dwi Lestari, menjelaskan keberhasilan ekspor yang berlangsung secara berkelanjutan memberikan kepastian pasar bagi nelayan yang sebelumnya sangat bergantung pada fluktuasi harga harian.
Sebelum program ini berjalan, hasil tangkapan nelayan sering kali mengalami penurunan harga saat musim panen karena keterbatasan daya serap pasar lokal.
Kini, melalui kemitraan dengan UNDIP dan perusahaan Jepang, hasil tangkapan memiliki pasar yang lebih stabil sehingga pendapatan nelayan menjadi lebih terjamin.
“Ketika permintaan ekspor berjalan secara konsisten, nelayan memiliki kepastian pasar, pekerja pengolahan memperoleh pekerjaan yang berkelanjutan, dan masyarakat pesisir mendapatkan manfaat ekonomi yang lebih stabil. Ini bukan hanya tentang ekspor produk, tetapi tentang membangun rantai ekonomi yang berkelanjutan,” jelas Dwi.
Dukung SDGs dan Industri Perikanan Berkelanjutan
Program ekspor ikan teri nasi ini juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya pengentasan kemiskinan, kesetaraan gender, penciptaan pekerjaan layak, pertumbuhan ekonomi, serta pelestarian ekosistem laut.
Keberhasilan tersebut membuktikan bahwa inovasi perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan riset ilmiah, tetapi juga mampu menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat melalui penguatan industri perikanan nasional yang berdaya saing global.
(*)
















Komentar