JAKARTA, JURANEWS.ID – Dukungan terhadap usaha kecil dan menengah (UKM) berorientasi ekspor mulai membuahkan hasil.
Salah satu UKM binaan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank, CV Alpha Agro Indonesia, berhasil mencatatkan transaksi ekspor 20 ton pala dengan nilai mencapai Rp181,3 juta ke pasar Tiongkok.
Transaksi tersebut merupakan tindak lanjut dari keikutsertaan perusahaan dalam The 21st China International Small and Medium Enterprises Fair (CISMEF) 2026 yang digelar di Guangzhou, China, pada 3–6 September 2026.
Indonesia Eximbank bersinergi dengan Kementerian UMKM RI dalam kegiatan tersebut untuk membuka akses pasar bagi UKM Indonesia sekaligus mempertemukan pelaku usaha dengan calon buyer potensial dari Tiongkok.
Pala menjadi salah satu komoditas rempah yang memiliki posisi penting dalam perdagangan internasional Indonesia.
Berdasarkan data BPS yang diolah Kementerian Perdagangan RI sebagaimana disampaikan Indonesia Eximbank, Indonesia berkontribusi sekitar 70–80 persen terhadap kebutuhan pala dunia dan menjadi salah satu produsen serta eksportir utama komoditas tersebut.
Tiongkok dan Vietnam disebut menjadi dua pasar utama bagi ekspor pala Indonesia.
Namun, sepanjang Januari hingga Mei 2026, ekspor pala, bunga pala, dan kapulaga dalam kelompok HS 0908 mengalami tekanan.
Kajian Indonesia Eximbank Institute mencatat kontraksi nilai ekspor sebesar 12,8 persen dan volume sebesar 18,2 persen secara kumulatif dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Pelemahan tersebut antara lain dikaitkan dengan perlambatan ekonomi yang berdampak terhadap konsumsi rumah tangga di Tiongkok.
Berawal dari Business Matching
Untuk mendorong kembali ekspor pala ke Tiongkok, Indonesia Eximbank mendampingi UKM dan debitur di sektor rempah serta produk kelapa melalui kegiatan business matching yang difasilitasi Kementerian UMKM RI.
Salah satu pelaku usaha yang mendapatkan manfaat dari kegiatan tersebut adalah CV Alpha Agro Indonesia.
Manager CV Alpha Agro Indonesia, Lusy, mengatakan keikutsertaan dalam pameran internasional tidak hanya ditujukan untuk mencari buyer dan meningkatkan branding.
Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan bagi perusahaan untuk memahami karakteristik calon pembeli dan kebutuhan pasar internasional.
“Keikutsertaan ini tidak hanya menjadi sarana untuk membangun branding, tetapi juga untuk melakukan benchmarking dan memahami kebutuhan pasar, termasuk preferensi buyer, skema pembayaran, serta proses pengiriman,” ujar Lusy.
Lusy menilai keberhasilan mengikuti pameran internasional tidak semata-mata diukur dari transaksi yang terjadi selama kegiatan berlangsung.
Menurut dia, tantangan berikutnya adalah mengubah pertemuan dengan calon buyer menjadi kerja sama bisnis yang berkelanjutan.
Proses menuju kesepakatan ekspor membutuhkan tindak lanjut komunikasi, sekaligus kesiapan perusahaan dalam menjaga kualitas produk dan kontinuitas pasokan.
Sementara itu, Kepala Divisi Jasa Konsultasi Indonesia Eximbank, Maria Sidabutar, mengapresiasi dukungan Kementerian UMKM RI dalam mendorong UKM berorientasi ekspor.
Menurut Maria, CISMEF 2026 menjadi momentum bagi pelaku UKM Indonesia untuk memperluas akses pasar dan membangun kemitraan dengan buyer di Tiongkok.
“Sejalan dengan mandatnya, Indonesia Eximbank hadir mendampingi UKM, baik dalam membuka akses pasar maupun meningkatkan kapasitas usaha,” kata Maria.
Indonesia Eximbank menyatakan akan terus mendorong ekspor nasional melalui sejumlah layanan, mulai dari pembiayaan modal kerja dan investasi eksportir, penjaminan, asuransi, hingga jasa konsultasi.
Pendampingan tersebut diarahkan untuk membantu UMKM meningkatkan kapasitas bisnis dan memperluas jangkauan pasar mancanegara secara berkelanjutan.
(*)










![[DBS] Foto 1 - Ilustrasi DBS](https://juranews.id/wp-content/uploads/2026/09/DBS-Foto-1-Ilustrasi-DBS-300x178.jpg)





Komentar