Dari Ritual ke Solusi, RendangMu Dinilai Jadi Model Distribusi Daging Qurban Lebih Adil

Program RendangMu Lazismu Jateng

JURANEWS.ID, SEMARANG – Program pengolahan daging qurban menjadi makanan siap saji bernama RendangMu dinilai menjadi solusi modern untuk menjawab persoalan klasik distribusi daging qurban yang selama ini belum merata.

 

Hal itu disampaikan Manajer Area Lazismu Jawa Tengah, Suprapto, dalam tulisannya berjudul Dari Ritual ke Solusi: Program RendangMu untuk Distribusi Daging Qurban yang Lebih Adil.

 

Menurut dia, pelaksanaan ibadah qurban di Indonesia sangat besar setiap tahun. Namun, di balik tingginya jumlah hewan qurban, distribusi daging masih kerap timpang. Di sejumlah daerah, daging qurban menumpuk dan diterima berlebih, sementara di wilayah lain, terutama daerah miskin, pelosok, dan kawasan terdampak bencana, masyarakat justru menerima sangat sedikit atau bahkan tidak sama sekali.

 

“Qurban seharusnya menghadirkan kepedulian sosial. Tetapi jika distribusinya tidak adil, justru berpotensi memunculkan kecemburuan sosial,” ujarnya, Rabu (22/4).

 

Ia menjelaskan, persoalan utama distribusi qurban setidaknya meliputi tiga hal, yakni pemerataan penerima manfaat, keterjangkauan wilayah terpencil, serta tata kelola data dan distribusi yang masih manual.

 

Indonesia sebagai negara kepulauan dengan ribuan pulau disebut menghadapi tantangan besar dalam pengiriman daging segar ke wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal). Selain keterbatasan transportasi berpendingin, daging segar juga memiliki masa simpan yang singkat.

 

Untuk menjawab tantangan tersebut, Lazismu menghadirkan inovasi RendangMu, yakni daging qurban yang diolah menjadi rendang dalam kemasan kaleng siap saji dengan daya tahan hingga dua tahun tanpa bahan pengawet.

 

Program ini didukung kerja sama dengan PT Cahaya Karimah Pratama (PRONAS), perusahaan nasional yang memiliki sertifikasi halal dan izin edar resmi. Hewan qurban berasal dari peternak lokal yang telah lolos pemeriksaan kesehatan, sementara proses penyembelihan dilakukan sesuai syariat Islam pada hari tasyrik dan diawasi langsung.

 

Seluruh proses juga didokumentasikan secara digital melalui grup pesan, spreadsheet, hingga video agar peserta qurban dapat menyaksikan penyembelihan hewan miliknya secara transparan.

 

Setelah diolah dan dikemas, produk RendangMu kemudian didistribusikan secara terencana ke berbagai daerah. Selain diberikan kepada peserta qurban, stok produk juga dimanfaatkan untuk program ketahanan pangan, penanganan stunting, bantuan fakir miskin, hingga logistik cepat saat terjadi bencana.

 

Ketua Badan Pengurus Lazismu Jawa Tengah, Dwi Swasana Ramadhan, mengatakan program ini membuat manfaat qurban tidak berhenti dalam hitungan hari, tetapi bisa dirasakan hingga dua tahun.

 

“Ini bukan hanya ibadah tahunan, tetapi bagian dari penciptaan ketahanan pangan, kesiapsiagaan bencana, dan penguatan industri halal,” katanya.

 

Ia menambahkan, target penghimpunan program qurban olahan pada 2025 mencapai Rp7,8 miliar atau setara sekitar 380 ekor sapi, meningkat 30 hingga 40 persen dibanding tahun sebelumnya.

 

Dalam skema program tersebut, setiap peserta qurban memperoleh sepertiga bagian hasil olahan berupa 20 kaleng rendang siap saji.

 

Sementara dua pertiga sisanya menjadi stok sosial Lazismu untuk didistribusikan ke masyarakat membutuhkan.

 

Melalui inovasi ini, qurban dinilai tidak lagi sekadar ritual tahunan, tetapi menjadi instrumen sosial yang lebih adil, tepat sasaran, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat modern.

 

(*)

Komentar