Ekonomi Indonesia Disebut Tetap Kuat, AI dan Hilirisasi Jadi ‘Senjata’ Hadapi Gejolak Global

DBS Insights Forum 2026 menilai konsumsi domestik, bonus demografi, sumber daya alam, dan hilirisasi menjadi modal penting Indonesia untuk menarik investasi di tengah rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok.

JURANEWS.ID, JAKARTA – Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan rivalitas geopolitik Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup kuat.

Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI), pergeseran rantai pasok global, hingga program hilirisasi industri disebut berpotensi menjadi katalis pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah.

Pandangan tersebut mengemuka dalam DBS Insights Forum 2026 bertajuk A New Lens on a Multipolar World yang digelar Bank DBS Indonesia di Jakarta, Senin (20/7/2026).

Forum tersebut menghadirkan sejumlah pakar dari bidang geopolitik, politik, investasi, serta jajaran ahli Bank DBS Indonesia. Di antaranya Founder and Chairman Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal, Executive Director Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya, Head of Investment & Insurance Product Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia Djoko Soelistyo, dan Head of Market Intelligence PT Bank DBS Indonesia Boy Suhendry.

Forum membahas perubahan lanskap ekonomi dan geopolitik global serta dampaknya terhadap prospek Indonesia dan strategi investasi di tengah ketidakpastian pasar.

Rivalitas AS-Tiongkok Jadi Tantangan Sekaligus Peluang

Lanskap ekonomi dunia saat ini ditandai dengan meningkatnya persaingan antara AS dan Tiongkok. Rivalitas tersebut tidak hanya terjadi dalam bidang militer dan diplomasi, tetapi juga merambah sektor ekonomi dan teknologi.

Kondisi tersebut turut memengaruhi volatilitas pasar global, termasuk kawasan Timur Tengah hingga Indo-Pasifik.

Di tengah perubahan tersebut, negara-negara middle powers atau kekuatan menengah diperkirakan akan memainkan peran yang semakin penting dalam dua hingga tiga dekade mendatang.

Indonesia dinilai memiliki peluang untuk memperkuat posisinya karena didukung oleh lokasi strategis, ukuran ekonomi yang terus berkembang, serta kondisi geopolitik yang relatif stabil.

Founder and Chairman FPCI Dino Patti Djalal mengatakan Indonesia memiliki modal geopolitik yang semakin kuat dibandingkan beberapa dekade sebelumnya.

“Kita bukan lagi negara dunia ketiga, kita adalah negara G20 dengan pendapatan ekonomi menengah ke atas. Geopolitik kita relatif aman karena rivalitas global saat ini tidak secara langsung mengarah ke Indonesia. Ini merupakan modal penting untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra strategis berbagai negara sekaligus menjaga stabilitas kawasan,” ujar Dino.

Namun, menurutnya, modal geopolitik saja belum cukup. Indonesia tetap membutuhkan langkah konkret untuk membangun kepercayaan pasar dunia.

Investor Mulai Melirik Tiga Kawasan

Head of Investment & Insurance Products Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia Djoko Soelistyo mengatakan perubahan lanskap global turut membuka peluang investasi baru.

Menurutnya, investor perlu melihat tren struktural jangka panjang dan tidak hanya mengandalkan sentimen pasar dalam mengambil keputusan investasi.

Ia menyebut terdapat tiga kawasan utama yang menarik untuk dicermati investor, yakni AS, Tiongkok, dan Asia termasuk Indonesia.

AS dinilai masih menjadi pemimpin dalam inovasi teknologi, khususnya AI. Sementara Tiongkok terus mempercepat pemanfaatan AI di berbagai sektor industri untuk meningkatkan produktivitas.

Di sisi lain, Asia termasuk Indonesia dinilai mendapatkan peluang dari pergeseran rantai pasok global dan pertumbuhan ekonomi kawasan.

“Di tengah perubahan lanskap global, investor perlu melihat peluang secara lebih luas dengan mempertimbangkan kekuatan fundamental setiap kawasan,” jelas Djoko.

Menurutnya, Bank DBS Indonesia terus menghadirkan wawasan regional dan panduan investasi bagi nasabah agar dapat mengambil keputusan dengan lebih percaya diri.

Hilirisasi dan Mineral Strategis Jadi Kekuatan Indonesia

Asia juga dinilai memiliki posisi strategis dalam rantai pasok industri masa depan.

Sejumlah negara di kawasan Asia menjadi pusat produksi semikonduktor, sementara Indonesia memiliki sumber daya mineral strategis seperti nikel, tembaga, dan bauksit.

Kondisi tersebut menjadi peluang bagi Indonesia untuk mengambil peran lebih besar dalam rantai pasok industri teknologi masa depan.

Selain kekayaan sumber daya alam, Indonesia juga memiliki konsumsi domestik yang kuat dan ketergantungan terhadap ekspor yang dinilai relatif lebih rendah dibandingkan sejumlah negara di kawasan.

Faktor tersebut disebut dapat memberikan daya tahan lebih baik terhadap gejolak ekonomi eksternal.

Fundamental Ekonomi Jadi Penentu Daya Saing

Executive Director Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya mengatakan meningkatnya rivalitas AS dan Tiongkok serta kecenderungan negara-negara menerapkan kebijakan ekonomi proteksionis membuat Indonesia harus semakin adaptif.

Menurutnya, langkah Indonesia memperkuat hubungan dengan berbagai mitra strategis, termasuk melalui BRICS dan kerja sama dengan AS, merupakan bagian dari strategi menjaga kepentingan nasional di tengah perubahan tatanan global.

Namun, posisi Indonesia pada akhirnya tetap ditentukan oleh kekuatan fundamental ekonomi domestik.

“Posisi tawar suatu negara tidak hanya ditentukan oleh kemampuan diplomasi, tetapi juga oleh kekuatan fundamental ekonominya. Ketika regulasi memberikan kepastian, birokrasi semakin efektif, iklim investasi kondusif, serta pembangunan infrastruktur terus diperkuat, Indonesia memiliki daya saing yang semakin tinggi di tengah dinamika geopolitik global,” ujar Yunarto.

Ia menilai kebijakan yang berorientasi pada kepentingan nasional perlu didukung dengan perencanaan berbasis data, tata kelola yang baik, serta fondasi fiskal yang kuat.

Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga kepercayaan investor sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

AI Bisa Jadi Katalis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Head of Market Intelligence PT Bank DBS Indonesia Boy Suhendry menilai prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah masih positif meski perekonomian global menghadapi berbagai tantangan.

Menurut Boy, Indonesia memiliki sejumlah keunggulan struktural yang dapat menjadi penopang pertumbuhan ekonomi.

Keunggulan tersebut meliputi sumber daya alam yang melimpah, konsumsi domestik yang kuat, bonus demografi, serta program hilirisasi yang terus didorong untuk meningkatkan nilai tambah industri nasional.

“Saat ini Amerika Serikat masih menunjukkan ketahanan ekonomi yang baik, sementara Asia terus mencatat momentum pertumbuhan yang positif. Di sisi lain, Tiongkok tetap menjadi mitra dagang utama Indonesia dengan neraca perdagangan yang masih mencatatkan surplus,” ujar Boy.

Di tengah pesatnya investasi global di sektor AI, Indonesia juga dinilai memiliki peluang besar karena menjadi salah satu produsen utama nikel dan mineral strategis yang dibutuhkan dalam rantai pasok teknologi masa depan.

Meningkatnya investasi dan pengembangan teknologi AI diperkirakan dapat mendorong permintaan terhadap sejumlah komoditas strategis Indonesia.

Kondisi tersebut dinilai berpotensi menjadi salah satu katalis positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional dalam jangka menengah.

Meski demikian, volatilitas pasar masih akan dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik, kebijakan fiskal, likuiditas global, dan arah suku bunga.

Bank DBS Indonesia menilai visibilitas pasar saat ini lebih baik dibandingkan beberapa bulan sebelumnya. Dengan fundamental ekonomi yang dinilai tetap kuat, Indonesia disebut memiliki peluang untuk terus menarik investasi dan mempertahankan momentum pertumbuhan di tengah perubahan lanskap ekonomi global.

Melalui DBS Insights Forum 2026, Bank DBS Indonesia menegaskan komitmennya untuk memberikan panduan investasi yang adaptif dan relevan bagi nasabah dalam menghadapi perubahan ekonomi global.

Komitmen tersebut turut diperkuat dengan pencapaian Bank DBS Indonesia sebagai Best Private Bank Indonesia 2026 dari FinanceAsia dan predikat Best Priority Banking Experience 2026 dari Asian Banking & Finance.

(*)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Komentar