Temuan Ericsson tersebut menunjukkan perubahan pola interaksi masyarakat dengan teknologi AI. Pengguna tidak lagi hanya mengandalkan teks, tetapi mulai memanfaatkan kemampuan AI untuk mengolah berbagai format informasi secara lebih interaktif.
Dalam laporan terbaru bertajuk An Agentic Life: How Consumer AI Usage is Shaping Future Network Needs, Tiongkok berada di posisi pertama dalam penggunaan AI multimodal harian, disusul Indonesia.
Tren ini diperkirakan terus berkembang. Pada 2030, sekitar 45 persen konsumen di Indonesia diproyeksikan menggunakan AI multimodal secara intensif, lebih tinggi dibandingkan proyeksi global sebesar 30 persen.
Peningkatan tersebut sekaligus memunculkan kebutuhan baru terhadap infrastruktur digital, terutama jaringan telekomunikasi yang mampu mendukung aktivitas AI secara cepat, responsif, stabil, dan andal.
Semakin beragam aktivitas AI yang dilakukan melalui gambar, video, suara, dan dokumen menuntut jaringan dengan kapasitas memadai. Konektivitas juga perlu mampu memberikan waktu respons yang cepat, terutama ketika pengguna mengakses layanan AI dari berbagai perangkat dan lokasi.
Kebutuhan tersebut semakin terlihat pada kelompok AI super users, yakni konsumen yang menggunakan AI lebih intensif untuk berbagai aktivitas dibandingkan pengguna rata-rata.
Menurut temuan Ericsson ConsumerLab, waktu respons AI berkontribusi sekitar 20 persen terhadap kepuasan jaringan pada kelompok tersebut. Angka itu lebih tinggi dibandingkan 8 persen pada pengguna smartphone secara umum.
Di Indonesia, waktu respons AI disebut memiliki pengaruh sekitar tiga kali lebih besar terhadap kepuasan jaringan bagi kelompok AI super users.
Temuan ini memperlihatkan bahwa kualitas jaringan tidak hanya ditentukan oleh kecepatan akses, tetapi juga kemampuan koneksi dalam memberikan respons yang konsisten ketika pengguna berinteraksi dengan layanan AI.
59 Persen Pengguna AI Khawatir terhadap Asisten Palsu
Selain persoalan performa jaringan, keamanan dan kepercayaan juga menjadi perhatian dalam perkembangan AI.
Ericsson ConsumerLab mencatat, 59 persen pengguna AI harian di Indonesia mengaku sangat khawatir terhadap asisten AI palsu yang bertindak atas nama mereka.
Di sisi lain, penyedia layanan komunikasi atau communications service providers (CSP) di Indonesia menempati peringkat kedua dalam tingkat kepercayaan untuk memverifikasi identitas asisten AI.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya peluang bagi penyedia layanan telekomunikasi untuk mendukung terciptanya interaksi AI yang lebih aman dan tepercaya, seiring meningkatnya penggunaan teknologi tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Presiden Direktur Ericsson Indonesia, Nora Wahby, mengatakan perkembangan penggunaan AI di Indonesia turut mengubah kebutuhan konsumen terhadap konektivitas.
“Seiring konsumen memanfaatkan AI melalui berbagai jenis konten dan perangkat, jaringan perlu menghadirkan pengalaman yang cepat, responsif, dan andal, sekaligus memastikan keamanan dan kepercayaan dalam setiap interaksi digital,” ujar Nora.
Perkembangan AI juga bergerak menuju era agentic AI, yaitu teknologi yang dapat menjalankan tugas tertentu atas nama pengguna, dengan atau tanpa keterlibatan langsung mereka.
Di Indonesia, penggunaan agentic AI diproyeksikan meningkat dari 8 persen saat ini menjadi 44 persen pada 2030. Secara global, laporan tersebut memperkirakan sekitar dua dari lima konsumen akan menggunakan teknologi ini pada periode yang sama.
Teknologi tersebut berpotensi membantu pengguna menyelesaikan pekerjaan rutin, seperti membandingkan produk, mengatur jadwal, hingga mengelola pembelian berulang.
Berdasarkan laporan Ericsson ConsumerLab, konsumen memperkirakan pendelegasian tugas rutin kepada AI dapat menghemat sekitar satu jam waktu layar setiap hari.
Ketika AI semakin banyak menjalankan tugas secara otomatis di latar belakang, kebutuhan jaringan diperkirakan ikut berubah. Jaringan masa depan perlu mendukung latensi rendah, kapasitas unggah atau uplink yang memadai, serta performa koneksi yang konsisten dan dapat diprediksi.
Pemanfaatan AI juga diperkirakan semakin meluas ke perangkat selain smartphone, termasuk smart glasses atau kacamata pintar.
Ericsson ConsumerLab memproyeksikan 35 persen konsumen di Indonesia akan menggunakan AI melalui perangkat selain smartphone pada 2030.
Perluasan penggunaan tersebut menuntut jaringan yang mampu mendukung konektivitas lintas perangkat dan lokasi. Kebutuhan kapasitas unggah juga menjadi perhatian, khususnya di kawasan perkotaan yang padat serta lokasi penyelenggaraan acara.
Menurut Nora Wahby, kesiapan jaringan menjadi salah satu faktor penting untuk memaksimalkan potensi AI dalam menghadirkan layanan digital yang lebih relevan dan efisien.
Dengan persiapan infrastruktur yang tepat, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk memperluas adopsi AI sekaligus mempercepat transformasi digital menuju Visi Indonesia 2045.
Laporan An Agentic Life: How Consumer AI Usage is Shaping Future Network Needs disusun berdasarkan survei terhadap lebih dari 43.000 pengguna smartphone berusia 15–69 tahun di 27 pasar. Pengumpulan data dilakukan pada Juni–Agustus 2025 serta Februari–Maret 2026.
(*)














Komentar