Jateng Siapkan Sigap Deswita, Dorong 1.000 Desa Wisata Naik Kelas

Sebanyak 899 desa wisata tercatat di Jawa Tengah pada 2025. Sekitar 76,2 persen masih berstatus rintisan.

JURANEWS.ID, SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyiapkan inovasi Sinergi Governansi Adaptif Desa Wisata (Sigap Deswita) untuk memperkuat pengembangan desa wisata sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal.

Program tersebut mengedepankan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan media dalam mengembangkan potensi wisata di berbagai desa.

Kepala Biro Administrasi Pembangunan Daerah (Bangda) Setda Provinsi Jawa Tengah, Eni Lestari, mengatakan Sigap Deswita menjadi salah satu upaya mendukung program unggulan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, yakni pengembangan 1.000 desa wisata atau kampung wisata sebagaimana tertuang dalam RPJMD 2025–2029.

“Pengelolaan desa wisata tidak bisa dilakukan sendiri oleh Dinas Pariwisata. Perlu kolaborasi banyak pihak, dengan masyarakat sebagai akar penggeraknya,” ujar Eni saat dikonfirmasi, Jumat (6/11/2026).

Menurutnya, setiap desa wisata memiliki karakteristik, potensi, dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, pengembangan melalui Sigap Deswita akan diawali dengan pemetaan potensi dan kebutuhan masing-masing desa.

Dukungan yang disiapkan meliputi pendampingan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), pelatihan pengolahan produk lokal, hingga pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana melalui kolaborasi lintas sektor.

Berdasarkan data Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Jawa Tengah, tercatat sebanyak 899 desa wisata di provinsi tersebut pada 2025. Namun, sekitar 76,2 persen di antaranya masih berstatus rintisan.

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah untuk mendorong desa wisata berkembang dan memiliki daya saing, sehingga mampu memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan.

Eni mencontohkan pengembangan Desa Candirejo, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang, yang memanfaatkan potensi Sungai Tuntang sebagai destinasi wisata rekreasi dan arung jeram atau rafting.

Lokasi tersebut bahkan pernah menjadi tempat penyelenggaraan cabang olahraga rafting dalam ajang olahraga tingkat Provinsi Jawa Tengah.

Menurut Eni, meningkatnya aktivitas wisata di kawasan tersebut membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Warga mulai didorong memanfaatkan rumah tinggal sebagai penginapan atau homestay, sekaligus mengembangkan produk olahan pangan lokal.

Pelatihan pengelolaan homestay serta pengolahan pisang dan singkong menjadi keripik, kue, dan berbagai produk makanan juga menjadi bagian dari upaya pengembangan ekonomi masyarakat.

“Ketika kunjungan wisata meningkat dan wisatawan tinggal lebih lama, peluang ekonomi masyarakat juga semakin terbuka. Mereka bisa mendapatkan penghasilan dari homestay, kuliner, maupun produk unggulan desa,” jelasnya.

Eni berharap Sigap Deswita dapat diterapkan secara berkelanjutan untuk mendukung target pengembangan 1.000 desa wisata di Jawa Tengah.

Selain memperkuat promosi dan branding, program tersebut diharapkan mampu menghasilkan basis data potensi dan kebutuhan setiap desa. Dengan demikian, dukungan dari pemerintah, dunia usaha, maupun akademisi dapat diberikan secara lebih tepat sasaran.

“Dengan demikian, pengembangan desa wisata tidak sekadar menambah destinasi kunjungan, tetapi juga menjadi pengungkit kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi berbasis potensi lokal,” pungkas Eni.

(*)

Komentar