Hadapi Ancaman Kekeringan, TEP UNDIP Latih Petani Woslay Papua dan Siapkan Solusi Irigasi

TEP UNDIP Latih Petani Woslay Papua Atasi Tanah Asam dan Kekeringan, Embung Patradipa Jadi Harapan Baru Irigasi

JURANEWS.ID, KEEROM – Keterbatasan irigasi dan kondisi tanah yang kurang mendukung menjadi tantangan bagi petani di Kampung Woslay, Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, Papua. Untuk menjawab persoalan tersebut, Tim Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (TEP UNDIP) memperkuat kapasitas petani melalui pelatihan pertanian, praktik budidaya, serta penguatan pengelolaan sumber daya air berbasis masyarakat.

Kegiatan yang melibatkan akademisi, pemerintah daerah, penyuluh pertanian, tokoh adat, dan perwakilan enam kelompok tani tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong ketahanan pangan dan kemandirian pertanian di kawasan perbatasan.

Rangkaian kegiatan meliputi Focus Group Discussion (FGD), pelatihan Good Agricultural Practices (GAP), praktik budidaya padi dan jagung, serta peninjauan Embung Patradipa di Jalur 3 Satuan Permukiman (SP) 2 Kampung Woslay.

Ketiadaan jaringan irigasi teknis yang menjangkau lahan persawahan membuat sebagian lahan pertanian warga berisiko terbengkalai saat musim kemarau. Sebaliknya, ketika musim hujan, limpasan air yang tidak terkelola berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman.

Dalam pelatihan GAP, pakar agronomi Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Ir. Yunus Musa, M.Sc., memberikan materi mengenai teknik budidaya padi dan jagung yang disesuaikan dengan kondisi lahan setempat.

Salah satu persoalan yang dibahas ialah tingkat keasaman tanah dengan pH sekitar 5, yang dapat memengaruhi ketersediaan unsur hara bagi tanaman.

Petani diperkenalkan dengan teknik pembenahan tanah menggunakan kapur dolomit serta bahan organik lokal, seperti sekam padi bakar dan kompos. Langkah tersebut bertujuan memperbaiki kondisi tanah, meningkatkan ketersediaan unsur hara, dan membantu tanah mempertahankan kelembapan.

Materi pelatihan juga menekankan pentingnya menyesuaikan teknik budidaya dengan karakteristik lahan agar pengelolaan pertanian lebih efektif.

Praktik Langsung Budidaya Padi dan Jagung

Setelah memperoleh materi, peserta mempraktikkan teknik budidaya di lahan percontohan atau demplot seluas 50 x 45 meter milik Sybur di Jalur 3 SP 2 Kampung Woslay.

Untuk tanaman padi varietas Mentik Susu Wangi dan Inpari 32, petani diarahkan menerapkan metode pindah tanam dari persemaian menggunakan pola tanam tegel dengan jarak 25 x 25 sentimeter.

Sementara itu, budidaya jagung hibrida menggunakan metode Tanam Benih Langsung (Tabela) dengan jarak tanam 70 x 20 sentimeter. Petani juga mendapatkan penjelasan mengenai penyulaman benih sekitar satu minggu setelah tanam untuk menjaga populasi tanaman.

Ketua Kelompok Tani Sejahtera, Natun, mengapresiasi materi yang diberikan karena dinilai sesuai dengan kebutuhan petani di Woslay.

“Materi yang dibawakan Prof. Musa sangat relevan dengan apa yang kami butuhkan. Budidaya padi dan jagung yang baik di setiap wilayah memang berbeda, tidak bisa disamakan. Namun beliau bisa memahami kebutuhan kami,” ujar Natun.

Petugas Badan Penyuluh Pertanian (BPP) Distrik Senggi, Ngatawi, juga menilai kegiatan tersebut memberikan tambahan pengetahuan teknis yang bermanfaat untuk mendampingi petani transmigran maupun Orang Asli Papua (OAP).

Ia berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan kembali sehingga petani dan masyarakat memiliki ruang untuk bertukar pengetahuan serta mendiskusikan persoalan pertanian di wilayah mereka.

Selain pelatihan budidaya, TEP UNDIP bersama petani, tokoh adat, penyuluh BPP, dan akademisi meninjau Embung Patradipa di Jalur 3 SP 2 Kampung Woslay.

Embung dengan ukuran galian sekitar 35 x 15 meter dan kedalaman 3 meter tersebut menjadi salah satu sarana penampungan air yang dibahas untuk mendukung kebutuhan pertanian di sekitarnya.

Dalam kunjungan tersebut, peserta meninjau kondisi fisik embung dan mendiskusikan kemungkinan distribusi air menggunakan pompa pendorong menuju petakan sawah serta lahan demplot hortikultura.

Nama Patradipa merupakan akronim dari Patriot Transmigrasi Diponegoro Muda, yang mencerminkan semangat pengabdian akademisi UNDIP bersama masyarakat di kawasan transmigrasi perbatasan.

Pembahasan tidak hanya berfokus pada pemanfaatan sarana penampungan air, tetapi juga pada keberlanjutan pengelolaannya. Para peserta menyepakati perlunya membentuk kelembagaan pengelola air di tingkat kelompok tani serta menyusun aturan atau standar operasional prosedur (SOP) mengenai jadwal penyiraman dan pemeliharaan embung.

Pengelolaan berbasis masyarakat tersebut diharapkan dapat membantu menjaga fungsi sarana air agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.

Akademisi UNDIP, Dr. Adi Prasetyo, M.Si., yang akrab disapa Tejo, menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat adat dan kelembagaan lokal dalam pembangunan.

Menurut pendekatan yang dibahas dalam kegiatan tersebut, keberlanjutan infrastruktur pertanian, termasuk embung, membutuhkan tata kelola partisipatif yang melibatkan Ondoafi, kepala keret, kelompok tani, dan unsur masyarakat lainnya.

Keterlibatan berbagai pihak dinilai penting agar pengelolaan sumber daya air tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik, tetapi juga didukung kesepakatan bersama dan tanggung jawab masyarakat.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNDIP, Prof. Dr.-Ing. Suherman, S.T., M.T., menegaskan bahwa Ekspedisi Patriot merupakan bentuk pengabdian perguruan tinggi untuk menjawab kebutuhan masyarakat secara langsung.

“Ekspedisi Patriot UNDIP merupakan wujud nyata pengabdian perguruan tinggi yang hadir langsung menjawab kebutuhan masyarakat. Kami ingin memastikan bahwa hasil pengetahuan, inovasi, dan riset UNDIP dapat memberikan manfaat nyata, khususnya dalam memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan gizi, dan membuka peluang ekonomi berbasis potensi lokal,” kata Prof. Suherman.

Melalui kolaborasi antara akademisi, pemerintah, penyuluh, masyarakat adat, dan kelompok tani, TEP UNDIP mendorong penguatan kapasitas petani sekaligus pengelolaan air dan lahan secara berkelanjutan.

Inisiatif tersebut sejalan dengan sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), antara lain pengentasan kelaparan, pengelolaan air, produksi pertanian yang bertanggung jawab, adaptasi terhadap perubahan iklim, dan penguatan kemitraan.

Upaya di Kampung Woslay ini diharapkan menjadi bagian dari pengembangan pertanian yang lebih tangguh di kawasan perbatasan, dengan menggabungkan pengetahuan ilmiah, teknologi tepat guna, kearifan lokal, dan gotong royong masyarakat.

(*)

Komentar

News Feed