KEEROM, JURANEWS.ID – Tim 17 Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (UNDIP) menginisiasi pembangunan embung berbasis masyarakat di Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, Papua.
Program tersebut ditujukan untuk mendukung ketersediaan air irigasi dan memperkuat ketahanan pangan di kawasan transmigrasi perbatasan.
Program bertajuk “Penyediaan dan Optimalisasi Air Irigasi Berbasis Masyarakat untuk Mendukung Pertanian Berkelanjutan di Kawasan Transmigrasi Senggi” tersebut merupakan bagian dari dukungan terhadap program strategis Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia.
Tahapan pembangunan diawali dengan pengujian teknis tanah di lokasi calon embung. Tim melakukan analisis laju infiltrasi air pada lapisan tanah untuk mengetahui kemampuan tanah dalam menahan air serta mengantisipasi potensi kebocoran.
Hasil pengujian menunjukkan karakteristik tanah yang telah dipadatkan memiliki daya serap air rendah. Kondisi tersebut dinilai mendukung pemanfaatannya sebagai dasar bangunan embung.
Berdasarkan perhitungan hidrologi yang mempertimbangkan laju infiltrasi dan estimasi penguapan musiman di kawasan Senggi, tim merancang embung dengan ukuran 60 meter panjang, 25 meter lebar, dan kedalaman 3 meter.
Rancangan tersebut diharapkan mampu menyediakan pasokan air irigasi yang lebih stabil, terutama untuk menghadapi potensi kekeringan pada musim kemarau.
Pembangunan embung tidak hanya mengandalkan kajian teknis. Tim 17 Ekspedisi Patriot UNDIP juga menggunakan pendekatan partisipatif dengan melibatkan masyarakat Woslay, kelompok masyarakat, serta gabungan kelompok tani.
Dialog dilakukan untuk menggali aspirasi, kendala, dan harapan para petani sekaligus membangun rasa memiliki terhadap infrastruktur yang akan dibangun.
Ketua Kelompok Masyarakat setempat, Gundi, menilai realisasi fisik menjadi hal penting untuk membangun kepercayaan masyarakat.
“Menurut saya, Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2025 melakukan babat lahan, kemudian TEP 2026 membuat pondasi. Agar masyarakat paham dan percaya, maka harus ada realisasi nyata,” ujar Gundi.
Menurutnya, ketersediaan air menjadi salah satu persoalan yang selama ini membuat warga ragu mengolah lahan produktif di sekitar jalur Satuan Permukiman (SP) 2 Senggi.
Ia berharap keberadaan embung nantinya dapat mendorong masyarakat untuk semakin aktif bertani.
“Harapannya setelah adanya embung dan bisa mengaliri, bisa membuat masyarakat lain tergerak untuk lebih semangat bertani,” katanya.
Pemkab Keerom Beri Dukungan
Untuk memastikan program berjalan selaras dengan kebijakan daerah, Tim 17 Ekspedisi Patriot UNDIP juga melakukan koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Keerom pada 24 Agustus 2026.
Audiensi dilakukan bersama tiga instansi teknis, yakni Dinas PUPR, Dinas Pertanian, dan Dinas Transmigrasi Kabupaten Keerom.
Dalam pertemuan tersebut, tim memaparkan desain teknis embung di Jalur 3 SP 2 Senggi serta kondisi sosial masyarakat di sekitar lokasi.
Plt. Kepala Bidang Transmigrasi, Maneta Bero, menyambut positif rencana tersebut.
“Kami menyambut dengan baik rencana kegiatan yang telah dirancang oleh Tim Ekspedisi Patriot UNDIP 2026. Begitupun kami merasa terbantu karena dengan adanya Tim, kami bisa hadir untuk meningkatkan produktivitas masyarakat transmigran di Senggi,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bagian Sumber Daya Air, Sisko, menilai kajian tanah dan perancangan hidrologi yang disusun tim sudah cukup matang.
Namun, ia mengingatkan pentingnya memperhatikan aspek sosial serta status tanah ulayat sebelum pembangunan dilakukan.
“Perihal penggunaan tanah yang akan dijadikan embung, bisa diperjelas dengan melakukan pendekatan kepada Ondoafi atau pihak setempat pemilik hak ulayat,” kata Sisko.
Ia juga menyebut keberhasilan pembangunan embung di Jalur 3 SP 2 dapat menjadi model untuk pembangunan infrastruktur serupa di lokasi lain.
“Saran saya, jika pembangunan embung ini berhasil, maka ke depan bisa dibangun di beberapa titik yang berdekatan dengan lokasi CSR,” tambahnya.
Kepala Dinas Pertanian Keerom, Hevi, turut memaparkan kondisi jaringan irigasi di kawasan Senggi.
Menurutnya, jaringan tersier telah tersedia, tetapi pendangkalan pada parit penampungan utama membuat distribusi air ke lahan pertanian belum optimal.
Normalisasi parit pun menjadi salah satu kebutuhan yang diharapkan dapat segera dilakukan untuk memperlancar pasokan air menuju sawah masyarakat.
Dengan demikian, pembangunan embung dan normalisasi jaringan irigasi diharapkan dapat berjalan beriringan.
Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, masyarakat transmigran, kelompok tani, dan pemangku adat dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan program.
Program Tim 17 Ekspedisi Patriot UNDIP tersebut juga diarahkan untuk mendukung sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs), antara lain pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan, pengelolaan air berkelanjutan, pembangunan infrastruktur, serta kemitraan lintas sektor.
Dari kawasan perbatasan Senggi, pembangunan embung tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi infrastruktur penampung air, tetapi juga menjadi penggerak produktivitas pertanian dan perekonomian masyarakat.
(*)
















Komentar