KLIK LINK UNTUK MELIHAT VIDEO : https://vt.tiktok.com/ZSgqmVttm/
SEMARANG, JURANEWS.ID — Niat hati ingin mengajak anak dan istri berlibur sambil bermain air, Eko, warga Kendal, justru pulang dengan kekecewaan. Agrowisata Sodong di Kota Semarang yang ia kira sudah kembali dibuka pada 25 Oktober 2026 ternyata masih tutup saat didatangi bersama keluarganya.
Eko mengaku sebelumnya melihat spanduk yang menginformasikan rencana pembukaan kembali destinasi wisata tersebut pada 25 Oktober 2026, setelah menjalani renovasi atau pemeliharaan.
Informasi itu membuatnya berharap bisa menghabiskan waktu bersama keluarga di lokasi wisata tersebut. Anak-anaknya bahkan sudah bersemangat ingin berenang atau sekadar bermain air di kolam keceh.
Namun, harapan itu tak sesuai kenyataan. Saat tiba di lokasi, pintu depan masih tertutup dan tidak terlihat petugas berjaga. Tanggal pembukaan kembali yang sebelumnya tercantum pada spanduk juga tampak ditutup warna hitam.
“Padahal anak-anak sudah semangat ingin berenang atau sekadar kecek di kolam. Saya kira tanggal 25 Oktober sudah buka, ternyata sampai di lokasi masih tutup,” demikian kekecewaan yang disampaikan Eko.
Perubahan informasi pada spanduk tersebut menjadi persoalan bagi calon pengunjung yang menjadikan pengumuman itu sebagai acuan untuk merencanakan liburan.
Eko mengaku ingin memanfaatkan waktu bersama anak dan istrinya. Namun, karena objek wisata masih tutup, rencana rekreasi keluarga itu tidak berjalan sesuai harapan.
Penutupan tanggal pada spanduk juga menimbulkan pertanyaan mengenai kepastian jadwal operasional Agrowisata Sodong. Apakah pembukaan kembali mengalami penundaan? Jika iya, kapan masyarakat bisa kembali menikmati fasilitas wisata tersebut?
Hingga kunjungan Eko, belum ada kepastian tanggal pembukaan kembali yang dapat ia jadikan pegangan.
Sebelumnya, penutupan sementara Kolam Keceh Sodong diberitakan mulai 9 September 2026 untuk pemeliharaan fasilitas dengan perkiraan waktu sekitar 45 hari. Perkiraan tersebut mengarah pada pembukaan kembali sekitar akhir Oktober, tetapi jadwal aktual tetap bergantung pada informasi resmi pengelola.
Kondisi yang dialami Eko menunjukkan pentingnya penyampaian informasi terbaru kepada masyarakat, terutama ketika jadwal yang sebelumnya diumumkan ternyata belum dapat direalisasikan.
Kepastian jadwal pembukaan diperlukan agar warga dari Semarang maupun daerah lain tidak datang dengan harapan bisa menikmati fasilitas yang ternyata masih ditutup.
Pengelola Diminta Beri Kepastian
Agrowisata Sodong menjadi salah satu pilihan rekreasi keluarga, termasuk bagi pengunjung yang ingin mengajak anak-anak bermain air di kolam keceh.
Karena itu, pengelola dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang perlu memberikan penjelasan mengenai alasan penutupan yang masih berlangsung serta perkiraan waktu fasilitas dapat kembali digunakan.
Informasi resmi yang mudah diakses masyarakat juga diperlukan agar calon pengunjung dapat memastikan kondisi destinasi sebelum berangkat.
Bagi Eko, rencana sederhana untuk mengajak anak dan istri berlibur justru berakhir dengan kekecewaan. Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa kepastian informasi pembukaan destinasi wisata sama pentingnya dengan pemeliharaan fasilitas itu sendiri.
Di balik proyek pemeliharaan Agrowisata Sodong yang menelan anggaran sekitar Rp375,88 juta, persoalan yang patut mendapat perhatian bukan semata-mata pekerjaan fisik, melainkan juga kepastian pelayanan kepada masyarakat.
Informasi pembukaan yang terpampang pada spanduk semestinya menjadi acuan bagi calon pengunjung. Ketika tanggal yang tertera justru ditutup hitam dan lokasi masih belum dibuka, muncul pertanyaan mengenai kepastian jadwal penyelesaian pekerjaan serta koordinasi informasi kepada publik.
Kondisi tersebut perlu dijelaskan oleh dinas terkait. Terlebih, proyek yang menggunakan anggaran publik tidak cukup hanya dinilai dari terselesaikannya pekerjaan fisik. Kesesuaian antara kontrak, spesifikasi teknis, volume pekerjaan, kualitas hasil, dan manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat juga perlu menjadi bagian dari evaluasi.
Apabila pekerjaan pemeliharaan belum rampung sesuai jadwal, pemerintah perlu menjelaskan kendala yang dihadapi beserta target penyelesaian yang pasti. Sebaliknya, jika pekerjaan telah dinyatakan selesai, perlu ada penjelasan mengapa kawasan wisata masih belum dapat dimanfaatkan pengunjung.
Publik juga berhak memperoleh informasi mengenai ruang lingkup pekerjaan, nilai kontrak, jangka waktu pelaksanaan, serta mekanisme pengawasan dan pemeriksaan hasil pekerjaan. Keterbukaan tersebut penting agar penggunaan anggaran daerah dapat dipertanggungjawabkan secara transparan.
Hingga ada penjelasan resmi dan dokumen pendukung yang dapat diperiksa, kondisi di lapangan belum cukup untuk menyimpulkan adanya pelanggaran atau penyimpangan anggaran. Namun, situasi ini layak menjadi bahan evaluasi: jangan sampai anggaran pemeliharaan yang seharusnya meningkatkan kualitas fasilitas wisata justru tidak diikuti kepastian layanan bagi masyarakat.
Saat dikonfirmasi terkait pemeliharaan dan kepastian pembukaan Agrowisata Sodong, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Indriyasari, S.E., M.A.P., menyampaikan bahwa penanganan persoalan teknis telah didelegasikan kepada kepala bidang terkait.
“Maaf, kegiatan tersebut sudah kami delegasikan ke Kabid. Saya tidak mengurusi teknis,” ujar Indriyasari melalui pesan singkat.
Sementara itu, Kepala UPTD Goa Kreo dan Agrowisata Kota Semarang, Gianto, belum berhasil dihubungi untuk dimintai keterangan mengenai kondisi terkini di lokasi, kepastian jadwal pembukaan kembali, serta pelaksanaan proyek pemeliharaan tersebut.
Belum adanya penjelasan dari pihak pengelola membuat sejumlah pertanyaan mengenai penyelesaian pekerjaan dan kepastian pelayanan kepada pengunjung masih memerlukan klarifikasi lebih lanjut. Padahal, keterbukaan informasi penting agar masyarakat mengetahui perkembangan proyek yang menggunakan anggaran publik tersebut.
(*)








Komentar