JURANEWS.ID, JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejumlah kejadian bencana di berbagai wilayah Indonesia dalam periode 2–3 November 2026. Bencana tersebut meliputi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kebakaran tempat pembuangan akhir (TPA), banjir, tanah longsor, hingga cuaca ekstrem.
Salah satu dampak terbesar tercatat di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Banjir yang dipicu hujan berintensitas tinggi, luapan sungai, tanggul jebol, serta longsor berdampak pada sekitar 1.417 kepala keluarga (KK) dan 1.417 unit rumah.
Berdasarkan laporan BNPB, kejadian di Lumajang berlangsung pada 1–2 November 2026 hingga pukul 22.00 WIB. Dampaknya tersebar di tiga kecamatan, yakni Pasirian, Jatiroto, dan Tempursari, yang mencakup delapan desa.
Selain rumah warga, bencana tersebut juga berdampak pada akses jalan, jaringan listrik, dan lahan pertanian. Tim Reaksi Cepat BPBD Kabupaten Lumajang melakukan pendataan, penanganan longsor, serta pemantauan wilayah yang berpotensi mengalami bencana susulan.
Petugas juga memantau debit sungai, jembatan limpas, kondisi tanggul, serta rumah warga yang terancam kerusakan. Bantuan logistik darurat disiapkan untuk masyarakat terdampak.
Banjir juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Malang, Jawa Timur, pada Senin (2/11/2026). Bencana tersebut melanda empat kecamatan, yakni Ampelgading, Bantur, Pagelaran, dan Sumbermanjing Wetan.
Lima desa terdampak meliputi Tirtomoyo, Lebakharjo, Bantur, Kademangan, dan Klepu. BNPB mencatat sekitar 43 KK dan 43 unit rumah terdampak, selain dua warung dan empat akses jalan. Satu unit jembatan juga dilaporkan mengalami kerusakan.
Berdasarkan perkembangan penanganan, air telah surut dan akses jalan dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Petugas masih melakukan pembersihan material banjir, dengan kebutuhan tambahan berupa alat berat dan truk tangki.
Sementara itu, banjir di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, dipicu kenaikan debit Sungai Ular setelah hujan berintensitas tinggi pada Kamis (29/10). Luapan sungai menyebabkan erosi pada dinding tepian sungai di Desa Bandar Kuala, Kecamatan Galang.
Dampak kejadian tercatat pada sekitar 11 rumah. Sebanyak 13 KK atau 51 jiwa mengungsi di tenda yang didirikan Brigif 7/RR maupun di rumah kerabat. Hingga Senin (2/11), kondisi banjir dilaporkan telah surut.
Kebakaran TPA Degayu Pekalongan Belum Padam
Di Jawa Tengah, BNPB turut mencatat kebakaran TPA Degayu di Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan. Kebakaran yang terjadi pada Minggu (1/11) sekitar pukul 11.30 WIB tersebut diperkirakan melanda area seluas 1,5 hektare.
Hingga Senin (2/11), api dilaporkan masih belum berhasil dipadamkan. BPBD Kota Pekalongan berkoordinasi dengan sejumlah pihak untuk melakukan asesmen dan pemadaman.
Posko lapangan dan dapur umum juga telah didirikan oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama Dinas Sosial. Bantuan logistik disalurkan untuk mendukung petugas dan masyarakat terdampak. BNPB melaporkan tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.
Selain kebakaran TPA, karhutla juga terjadi di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, serta Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Di Parigi Moutong, kebakaran di Desa Gunung Sari, Kecamatan Bolano Lambunu, menghanguskan sekitar 110 hektare lahan perkebunan dan lahan kosong. Hingga Senin (2/11), api masih ditemukan di sejumlah titik. Kondisi medan dan keterbatasan sumber air menjadi kendala pemadaman.
Kebakaran lain di Desa Ganongol Sari, Kecamatan Bolano Lambunu, menghanguskan sekitar satu hektare lahan. Setelah hujan turun, petugas masih menemukan asap dari dalam tanah yang diduga berasal dari bara api di lapisan gambut.
Sementara itu, kebakaran di kawasan Bukit Embung Purbasari, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, menghanguskan sekitar 1,6 hektare lahan milik Perhutani. Kebakaran yang dipicu pembakaran sampah tidak terkendali tersebut berhasil dipadamkan pada Senin (2/11) pukul 13.02 WIB. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.
BNPB juga melaporkan tanah longsor di kawasan Glamping Pelaga Eco Park, Banjar Bukit Buluk Tihing, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali, pada Minggu (1/11).
Hujan deras memicu longsoran yang menyebabkan dua orang dinyatakan hilang. BPBD Kabupaten Badung bersama Tim SAR gabungan melakukan operasi pencarian terhadap korban.
Unsur yang terlibat dalam pencarian antara lain SAR Denpasar, BPBD Provinsi Bali, BPBD Kabupaten Badung, pemadam kebakaran, Satpol PP, TNI/Polri, pemerintah kecamatan, dan aparat Desa Pelaga.
Sementara itu, cuaca ekstrem di Dusun Liren, Desa Kuta Gamber, Kecamatan Tanah Pinem, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, mengakibatkan pohon tumbang dan menimpa sebuah rumah hingga mengalami rusak berat.
Peristiwa pada Jumat (30/10) sekitar pukul 19.00 WIB tersebut menyebabkan satu orang meninggal dunia dan satu orang lainnya mengalami luka-luka. BPBD Kabupaten Dairi telah melakukan asesmen, evakuasi, koordinasi dengan pemerintah setempat, serta penanganan terhadap warga terdampak.
Memasuki November 2026, BNPB mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi seiring prakiraan BMKG bahwa sebagian wilayah Indonesia memasuki musim hujan.
Potensi ancaman yang perlu diwaspadai meliputi hujan lebat disertai petir, angin kencang atau puting beliung, banjir, dan tanah longsor.
Masyarakat diimbau rutin memantau prakiraan cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi BMKG. Warga juga diminta membersihkan saluran air, selokan, dan talang rumah agar tidak tersumbat, serta memangkas dahan atau ranting pohon yang rapuh dan berpotensi membahayakan.
Selain itu, masyarakat diharapkan memahami jalur evakuasi dan menyiapkan tas siaga bencana yang berisi kebutuhan darurat untuk tiga hari.
BNPB juga mengingatkan pemerintah daerah agar memperkuat kesiapsiagaan melalui pemetaan wilayah rawan bencana, memastikan kesiapan personel dan logistik, mengoptimalkan dana darurat, serta memperkuat sistem peringatan dini.
Sosialisasi evakuasi mandiri, terutama bagi kelompok rentan, juga perlu ditingkatkan. Pemerintah daerah diminta melakukan normalisasi sungai dan membersihkan fasilitas pengendali banjir sebagai bagian dari upaya mengurangi risiko bencana.
(*)














Komentar