JAKARTA, JURANEWS.ID – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sejumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah Indonesia pada periode 14–15 Oktober 2026. Salah satu kejadian di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, mengakibatkan satu orang meninggal dunia dan sekitar satu hektare lahan terbakar.
Berdasarkan laporan Direktorat Koordinasi Pengendalian Operasi BNPB per Kamis (15/10/2026), karhutla masih mendominasi kejadian bencana yang dilaporkan. Sejumlah wilayah terdampak meliputi Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, dan Jawa Tengah.
Selain kebakaran, BNPB juga mencatat dampak kekeringan terhadap sekitar 1.430 kepala keluarga (KK) di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.
Kebakaran lahan terjadi di Desa Kalisalak, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas, pada Rabu (14/10/2026) sekitar pukul 12.00 WIB.
Berdasarkan laporan BPBD Kabupaten Banyumas, kebakaran menghanguskan sekitar satu hektare lahan dan menyebabkan satu orang meninggal dunia.
Kebakaran diduga bermula dari puntung rokok yang tidak dipadamkan saat korban beristirahat. Puntung tersebut diduga memicu terbakarnya dedaunan kering di sekitar lokasi. Penyebab tersebut masih perlu merujuk pada hasil penanganan dan pemeriksaan pihak berwenang.
BPBD Kabupaten Banyumas bersama TNI, Polri, dan pihak kecamatan melakukan pendataan serta penanganan. Berdasarkan laporan terakhir pada Rabu (14/10), api telah padam seluruhnya dan korban telah dievakuasi.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa sumber api kecil dapat memicu kebakaran ketika berada di kawasan dengan vegetasi kering.
Banggai Kepulauan, 58 Hektare Lahan Terbakar
Di Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, karhutla diperkirakan menghanguskan 58 hektare lahan.
Kebakaran terjadi pada Senin (12/10/2026) di enam titik di Kecamatan Totikum, yakni Desa Sampaka, Batangbabasal, Salangano, Lopito, Bangpanga, dan Tone.
Menurut laporan BNPB, kebakaran bermula dari pembakaran lahan kebun milik warga yang kemudian merembet ke kawasan hutan.
Tim Reaksi Cepat BPBD Kabupaten Banggai Kepulauan melakukan asesmen dan pemantauan. Penanganan dilakukan melalui pemadaman menggunakan tangki semprot air, pembuatan sekat bakar untuk menghambat perambatan api, serta pemantauan berkala guna mencegah munculnya kembali titik api.
Hasil pemantauan menunjukkan api telah berhasil dipadamkan. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam kejadian tersebut.
Karhutla di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, terjadi di Kelurahan Baruga dan Kelurahan Tande, Kecamatan Banggae Timur, dengan estimasi luas lahan terbakar sekitar 15 hektare.
Rinciannya, sekitar 10 hektare lahan terbakar di Kelurahan Baruga dan lima hektare di Kelurahan Tande.
Hingga Rabu (14/10), api di Kelurahan Tande dilaporkan telah padam seluruhnya. Namun, kebakaran di Kelurahan Baruga masih menyala dan dipantau masyarakat setempat.
Kondisi medan pegunungan menjadi kendala pemadaman karena armada pemadam tidak dapat menjangkau titik kebakaran. Masyarakat dan aparat setempat melakukan pemadaman secara manual, sementara BPBD Kabupaten Majene berkoordinasi dengan pihak terkait.
Sementara itu, karhutla di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, menghanguskan sekitar lima hektare lahan. Api telah berhasil dipadamkan dan petugas melakukan pendinginan untuk memastikan tidak ada titik api tersisa.
Kebakaran lainnya dilaporkan terjadi di Desa Kayu Jati, Kecamatan Ongka Malino, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Sekitar tiga hektare lahan terbakar dan api dilaporkan padam pada Rabu (14/10).
Selain karhutla, kekeringan masih berdampak terhadap masyarakat di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. BNPB mencatat sekitar 1.430 KK di Kecamatan Pasrepan dan Lumbang terdampak kondisi tersebut.
Untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih, BPBD Kabupaten Pasuruan telah menyalurkan air sebanyak 11 ritase atau tangki.
Pemerintah Kabupaten Pasuruan menetapkan status siaga darurat kekeringan untuk periode 7 Oktober hingga 1 Desember 2026.
Koordinasi antara pemerintah daerah dan unsur terkait terus diperlukan agar distribusi air bersih menjangkau warga yang membutuhkan selama kondisi kekeringan belum pulih.
BNPB mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap karhutla, terutama ketika vegetasi mengering dan akses pemadaman terbatas.
Masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta memastikan sumber api benar-benar padam setelah digunakan. Warga di wilayah terdampak juga diimbau menggunakan masker, khususnya ketika beraktivitas di luar ruangan.
Apabila menemukan titik api atau asap yang mengindikasikan kebakaran, masyarakat diminta segera melapor kepada aparat desa, BPBD, atau petugas pemadam kebakaran setempat. Pelaporan juga dapat dilakukan melalui pusat telepon BNPB di nomor 117.
Warga diimbau tidak mendekati lokasi kebakaran, terutama di kawasan dengan medan sulit, asap tebal, atau arah rambat api yang tidak menentu.
Untuk wilayah terdampak kekeringan, BNPB mengimbau masyarakat menggunakan air secara bijak, menyimpan cadangan air bersih saat pasokan tersedia, dan mengikuti informasi serta arahan pemerintah daerah mengenai distribusi air.
BNPB bersama BPBD dan unsur terkait terus memantau perkembangan kejadian serta mendorong penanganan sesuai kondisi di lapangan. Upaya pencegahan dan kewaspadaan masyarakat menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko kebakaran dan dampak kekeringan.
(*)














Komentar