JURANEWS.ID, JAKARTA – Meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan kebijakan tarif impor Amerika Serikat menciptakan dinamika baru bagi perekonomian global. Kondisi ini mendorong arus perdagangan dan investasi bergerak ke kawasan yang lebih stabil, menjadikan Asia dan hubungan ekonomi Indonesia-Tiongkok sebagai peluang strategis yang perlu dimanfaatkan secara maksimal.
Director of Institutional Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Anthonius Sehonamin, menilai momentum hubungan Indonesia dan Tiongkok bukan hanya soal perdagangan, melainkan cerminan transformasi lanskap bisnis regional yang semakin terintegrasi.
“Momentum Indonesia–Tiongkok bukan hanya peluang perdagangan, tetapi juga mencerminkan transformasi lanskap bisnis regional yang semakin terintegrasi,” ujar Anthonius.
Untuk membantu korporasi tetap tangguh dan adaptif, Bank DBS membagikan lima strategi komprehensif guna menavigasi risiko sekaligus menangkap peluang di tengah ketidakpastian tersebut:
1. Antisipasi Risiko Geopolitik lewat Diversifikasi
Konflik global berpotensi mengganggu jalur logistik dan meningkatkan biaya distribusi. Oleh karena itu, korporasi disarankan memperkuat ketahanan operasional melalui diversifikasi pasar dan mitra, serta memperdalam keterlibatan dalam rantai pasok regional yang terintegrasi dengan Tiongkok sebagai pusat manufaktur. Penerapan scenario planning dan fleksibilitas keuangan juga menjadi kunci agar bisnis tetap adaptif.
2. Kelola Risiko Nilai Tukar
DBS memproyeksikan USD/IDR berada di kisaran Rp 16.350 pada akhir 2026. Meski BI menjaga stabilitas, volatilitas tetap berpotensi terjadi. Strategi lindung nilai (hedging), pencocokan arus kas (natural hedge), dan penyesuaian struktur pembiayaan menjadi langkah krusial untuk menjaga margin bisnis tetap sehat dan kompetitif.
3. Bangun Struktur Keuangan yang Kuat
Prospek ekonomi Indonesia diproyeksikan tumbuh sekitar 5,3 persen dengan inflasi terjaga, sementara Tiongkok tumbuh stabil dengan suku bunga relatif rendah. Kondisi ini menciptakan ruang investasi yang kondusif. Korporasi perlu memastikan struktur neraca yang sehat, tingkat utang terukur, dan sumber pendanaan terdiversifikasi agar siap berekspansi dan mengambil keputusan investasi dengan cepat.
4. Manfaatkan Pergeseran Rantai Pasok Regional
Kebijakan perdagangan global mendorong perusahaan Tiongkok memperluas basis produksi ke luar AS, dengan Indonesia sebagai tujuan utama. Posisi Tiongkok sebagai investor terbesar kedua di Indonesia dengan nilai mencapai USD 34,19 miliar membuka peluang besar bagi korporasi lokal untuk terlibat dalam rantai nilai industri, bukan hanya sekadar pengekspor bahan baku.
5. Perkuat Posisi dan Kolaborasi Industri
Meskipun tarif AS kembali mendekati normal, dinamika perdagangan masih berubah cepat. Korporasi perlu memperkuat efisiensi dan diversifikasi pasar. Kerja sama strategis seperti Two Parks Twin Countries (TCTP) menjadi momentum bagi pelaku usaha Indonesia untuk berkolaborasi dalam manufaktur, teknologi, dan pengembangan kawasan industri bersama mitra Tiongkok.
“Perusahaan yang siap secara finansial dan strategis akan memiliki posisi yang lebih kuat dalam rantai nilai global. Sebagai mitra tepercaya, Bank DBS Indonesia hadir membantu nasabah merancang strategi yang adaptif dan berkelanjutan,” tutup Anthonius.
(*)









Komentar