JURANEWS.ID, JAKARTA – Sejumlah indikator ekonomi nasional menunjukkan perkembangan positif hingga September dan Oktober 2026. Indeks manufaktur Indonesia tercatat berada di level 54, sementara neraca perdagangan sepanjang Januari-September 2026 mencatatkan surplus sebesar 10,61 miliar dolar AS.
Perkembangan tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto setelah mengikuti rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto bersama sejumlah anggota Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (2/11/2026).
Airlangga mengatakan, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada periode terbaru mencapai level 54. Angka tersebut meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 52,4.
“Indeks Purchasing Manager, Indeks Indonesia di sektor manufaktur sudah masuk ke level ekspansi di 54. Itu meningkat dari bulan yang lalu 52,4 dan ini menandakan penguatan ekspansi sektor manufaktur,” ujar Airlangga.
Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan penguatan aktivitas manufaktur nasional. Ia juga menyebut level ekspansi itu menjadi yang tertinggi sejak Maret 2024.
Dari sektor perdagangan, Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar 3,36 miliar dolar AS pada September 2026.
Surplus tersebut ditopang perdagangan nonmigas yang mencapai 5,67 miliar dolar AS. Sementara itu, perdagangan migas masih mengalami defisit sebesar 2,31 miliar dolar AS.
Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari hingga September 2026 mencatatkan surplus sebesar 10,61 miliar dolar AS.
Airlangga menjelaskan, surplus perdagangan nonmigas selama periode tersebut mencapai 34,21 miliar dolar AS. Namun, capaian itu masih diimbangi defisit perdagangan migas sebesar 23,6 miliar dolar AS.
“Dari segi bulan Januari sampai September 2026, ini surplusnya neraca perdagangan kita 10,61 miliar. Dipicu oleh surplus nonmigas sebesar 34,21 miliar dan walaupun defisit migas mencapai 23,6 miliar,” katanya.
Ekspor Tumbuh 5,58 Persen
Kinerja ekspor nasional juga menunjukkan pertumbuhan positif. Airlangga menyampaikan, nilai ekspor Indonesia secara keseluruhan pada Januari-September 2026 mencapai 221,23 miliar dolar AS atau tumbuh 5,58 persen secara tahunan (year on year).
Dari jumlah tersebut, ekspor nonmigas tercatat sebesar 212,27 miliar dolar AS.
“Dari ekspor kita lihat secara total naik 5,58 persen year on year. Jadi tahun ini Januari-September 221,23 miliar dolar AS. Kemudian dari segi nonmigas ekspornya 212,27 miliar dolar AS,” ungkapnya.
Di sisi stabilitas harga, inflasi Indonesia pada Oktober 2026 tercatat sebesar 3,23 persen secara tahunan (year on year) dan 0,22 persen secara bulanan (month to month). Sementara inflasi tahun kalender (year to date) mencapai 2,4 persen.
Airlangga menyebut angka inflasi tahun kalender tersebut masih berada dalam rentang sasaran inflasi pemerintah, yakni 2,5 persen plus minus 1 persen.
Ia menjelaskan, tekanan inflasi terutama berasal dari kelompok harga bergejolak (volatile food), termasuk makanan dan minuman, cabai rawit, serta ikan segar. Kenaikan harga juga dipengaruhi kelompok transportasi, termasuk angkutan udara.
Untuk mengantisipasi kenaikan biaya perjalanan menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), pemerintah menyiapkan program diskon transportasi.
“Termasuk angkutan udara, namun kita punya program untuk diskon menjelang Nataru. Jadi kenaikan itu nanti kita akan kompensasi dengan diskon,” ujar Airlangga.
Airlangga mengatakan, berbagai program pemerintah diarahkan untuk menjaga daya tahan masyarakat sekaligus memastikan aktivitas ekonomi nasional tetap berjalan.
Ia menilai sejumlah indikator tersebut menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia masih terjaga hingga saat ini. Pemerintah juga berharap kondisi perekonomian tetap stabil hingga akhir 2026.
“Jadi ini menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia terjaga dan masih kuat sampai bulan ini, dan sampai akhir tahun diharapkan kondisi masih terjaga,” pungkasnya.
(*)














Komentar