JURANEWS.ID, JAKARTA — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 11 kejadian bencana terjadi di sejumlah wilayah Indonesia dalam periode Rabu (13/5) pukul 07.00 WIB hingga Kamis (14/5) pukul 07.00 WIB. Dari jumlah tersebut, lima kejadian dinilai menonjol karena berdampak signifikan dan masih dalam proses penanganan pemerintah daerah bersama unsur terkait.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengatakan kejadian banjir di Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat menjadi salah satu peristiwa yang mendapat perhatian khusus.
Banjir yang terjadi pada Rabu (13/5) itu berdampak pada 275 kepala keluarga (KK) atau 252 jiwa serta merendam 122 unit rumah. Hingga kini pendataan masih terus dilakukan oleh petugas di lapangan.
BNPB melaporkan kondisi banjir mulai berangsur surut, namun masih terdapat sejumlah wilayah yang sulit diakses akibat jembatan yang putus.
Saat banjir terjadi, Pemerintah Kabupaten Tanah Datar diketahui masih berada dalam masa transisi darurat menuju pemulihan pascabencana banjir dan longsor yang terjadi pada November 2025 lalu. Status tersebut berlaku sejak 28 Desember 2025 hingga 31 Juli 2026.
Selain banjir, BNPB juga mencatat kejadian kekeringan di Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur pada Rabu (13/5). Bencana tersebut berdampak pada 89 KK.
Sebagai langkah penanganan, BPBD Kabupaten Bondowoso mendistribusikan air bersih menggunakan dua unit truk tangki berkapasitas masing-masing 5.000 liter untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak.
Di Provinsi Jawa Tengah, gerakan tanah yang terjadi di Kabupaten Cilacap sejak Selasa (6/5) berdampak pada 11 KK dan menyebabkan empat KK harus mengungsi. Selain itu, tercatat tiga rumah mengalami rusak ringan, tujuh rumah rusak sedang, dan satu rumah rusak berat.
Hingga kini penanganan masih berlangsung dan akses jalan yang amblas belum dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Pemerintah daerah menetapkan status siaga darurat hingga 30 Mei 2026.
Sementara di Provinsi Sulawesi Tenggara, banjir di Kabupaten Kolaka Timur yang terjadi sejak Kamis (8/5) berdampak pada 282 KK, merendam 276 rumah, serta menyebabkan dua rumah rusak ringan dan empat rumah rusak sedang.
Pemerintah daerah menetapkan status tanggap darurat hingga 22 Mei 2026. BNPB menyebut kondisi banjir di wilayah tersebut kini telah surut.
Banjir juga melanda Kabupaten Kolaka pada Selasa (12/5) dan berdampak pada 595 KK atau 2.062 jiwa serta merendam 587 rumah warga. Status tanggap darurat ditetapkan hingga 26 Mei 2026.
Kondisi terkini menunjukkan genangan air mulai surut dan warga mulai melakukan pembersihan rumah terdampak banjir.
Selain memantau kejadian bencana, BNPB juga terus mengawasi aktivitas gunung api berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Hingga Rabu (13/5), terdapat tiga gunung api berstatus Level III atau Siaga, yakni Gunung Lewotobi Laki-laki, Gunung Merapi, dan Gunung Semeru.
BNPB juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrem berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Sejumlah wilayah diprediksi masih berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang, di antaranya Aceh, Kepulauan Riau, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Papua, dan Nusa Tenggara Barat.
BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi basah maupun kering, seperti banjir, gerakan tanah, cuaca ekstrem, hingga kekeringan.
Masyarakat juga diminta terus memantau informasi resmi dari pemerintah daerah, BPBD, dan BMKG serta segera melakukan langkah antisipasi dan evakuasi apabila terjadi peningkatan ancaman bahaya.
(*)













Komentar